... A thread ... (Mahameru) Perjalanan hidup dan mati @IDN_Horor @bacahorror @ceritaht #bacahoror #bacahoror #threadhorror
Disini saya menuliskan kisah mistis pendakian ke gunung Semeru. Semua nama tokoh telah disamarkan ... Selamat membaca ...
September 2014 Waktu yang cocok untuk kita menikmati keindahan alam diatas gunung, maka dari itu aku membuat agenda untuk mendaki ke gunung Semeru bersama 2 teman baikku yang juga mempunyai hobi yang sama dalam bidang pendakian.
Dani dan Yudi. Mereka adalah temanku semenjak SMA ya meskipun kami beda sekolah tapi kami tinggal satu kosan. Tepi kini kami tinggal berjauhan karena beda kota tapi itu tidak membuat kami putus persaudara’an justru malah sebaliknya.
Sering kali aku berkunjung ke rumah Yudi yang orang tuanya juga sudah begitu akrab denganku begitu juga dengan Dani,
tidak jarang juga mereka berdua yang berkunjung ke rumahku dan kedatangan mereka juga selalu disapa hangat oleh orang tuaku, bisa dibilang kami ini adalah saudara tapi beda orang tua.
Sejak tahun 2009 kami bertiga sering menjajaki gunung-gunung yang ada di pulau jawa kalau sama-sama ada waktu luang. Bukannya ada waktu luang sih malahan kami selalu mencari waktu luang.
Mungkin kami sudah melanggar salah satu pantangan dalam hal pendakian yaitu jumlah ganjil tapi mitos itu tidak begitu kami hiraukan karena bagi kami adalah niat dan tujuan dan syukurlah selama kami bertiga menjajaki beberapa gunung tidak pernah ada hal buruk yang menimpa kami,
ada sih tapi tidak terlalu serius dan itu masih bisa di selesaikan dengan mudah tapi tidak dengan hal buruk yang menimpaku ketika mendaki ke gunung Semeru waktu itu.
Sebuah kejadian yang menurutku aneh tapi itu terasa sangat nyata, dimana waktu itu tanpa sengaja aku hampir terpelosok di jalur blank 75.
(Sabtu 6 September 2014) Kami bersepakat untuk bertemu di sebuah kota tempat kami bertiga sekolah dulu yaitu kota Jombang, Jawa timur dan titik kumpulnya adalah di rumah Yudi.
Bagi kami bertiga rumah Yudi adalah bascamp karena setiap kali kami akan pergi mendaki gunung rumah Yudi lah yang selalu kami pilih sebagai titik kumpul, selain tempatnya strategis orang tua Yudi juga sudah menganggap kami seperti anak sendiri.
Setelah berkumpul kami langsung menaiki motor untuk berangkat ke gunung Semeru dan tidak lupa bersalaman dengan orang tua Yudi untuk pamit dan meminta doa restunya.
Dani mengendarai motor bututnya sendiri sedangkan aku berboncengan dengan Yudi.
Yaa.. Dani memang selalu begitu setiap mendaki, dia lebih suka mengendarai motor butunya sendiri dari pada dibonceng. Katanya, meskipun butut tapi motor itulah yang selalu mengantar Dani kemanapun dia pergi.
Singkat cerita... Sore itu kami bertiga sampai di desa terakhir yaitu Ranu pani, sebuah desa yang membuatku merasa nyaman ketika aku menginjakan kaki disana sampai-sampai aku mempunyai fikiran,
“Andaikan aku tinggal di desa ini pasti setiap hari aku akan merasakan kesejukan alam yang asri”.
Kedatangan kami sore itu disapa hangat oleh penjaga parkir yang terletak di sebelah lapangan luas yang kalau sore hari selalu ramai oleh anak-anak bermain bola,
setelah motor sudah kami titipkan di tempat parkir kami berjalan melewati anak-anak yang sedang bermain bola itu untuk menuju ke basecamp.
Sesampai di bascamp ternyata tidak ada yang berubah, bangunan bascamp masih sama seperti awal aku kesini pada tahun 2010 lalu namun kali ini suasana semakin ramai oleh pendaki.
Ini bukan pendakian pertamaku ke gunung Semeru begitupun Yudi dan Dani, ini sudah ketiga kalinya aku menjajaki alam gunung Semeru tapi 2 pendakian sebelumnya kami tidak sampai ke puncak Mahameru.
Di tahun 2010 kami hanya mendaki sampai di Ranu kumbolo dan di tahun 2012 kami bisa sedikit keatas ke Kalimati tapi, kali ini kami bertiga bertekad untuk menginjakan kaki di tanah tertinggi Jawa yaitu Mahameru.
Kurang lebih 15 menit lamanya kami mengurus simaksi, mulai dari mengisi formulir dan yang terakhir membayar tiket sebesar Rp.17.500 per hari. Setelah selesai kami langsung memulai perjalanan sore itu juga.
Di awal-awal perjalanan jalalnya masih sama, yaitu jalan aspal yang menurun hingga sampai di pintu gerbang pendakian baru kemudian jalannya berupa tanah dan menanjak.
Sambil berjalan aku membayangkan bagaimana rasanya berdiri di puncak Mahameru nanti, tentunya hal pertama yang akan aku lakukan nanti adalah bersujud syukur, yaa meskipun belum tentu aku akan kuat untuk menggapai Mahameru.
Selangkah demi selangkah jalan berpaving dan dominan menanjak ini kami lalui hingga tidak terasa sampailah kami di pos peristirahatan pertama, sesampai disitu kami istirahat di dalam bangunan shelter dan menyempatkan untuk membuat kopi.
Kegiatan membuat kopi di perjalanan ini rutin kami lakukan setiap kali mendaki dengan tujuan agar perjalanannya bisa dinikmati dengan adanya kopi di selah-selahnya, disisi lain waktu itu kami juga sedang menunggu habis waktu maghrib.
Setelah kopi sudah habis terminum dan mengingat waktu maghrib juga sudah lewat,
kamipun kembali bersiap-siap akan melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya dan malam ini target kami adalah sampai di Ranu kumbolo untuk bermalam disana tapi apalah daya malam ini kami hanya bisa sampai di pos 4.
Kami orangnya tidak suka memaksakan sesuatu. Memang tujuan kami malam ini adalah Ranu kumbolo dan istirahat disana tapi kalau memang sudah lelah lebih baik beristirahat dulu jangan dipaksakan.
Karena waktu itu di pos 4 terlihat sepi kami memutuskan untuk menggelar matras di dalam bangunan shelter untuk istirahat di dalamnya, urusan nanti ada pendaki lain yang mau istirahat juga tidak masalah lagian tempatnya terlalu luas untuk kami bertiga.

