Hal itu terungkap ketika jaki menanyakan tanggal dan bulan saat mereka menemukan amar. (Sekedar info, kampung yang saat itu menolong mereka memang warganya non muslim semua.)
"Kurasa temanmu itu, berhasil keluar lebih dulu dari kampung tersebut. Tapi jalannya selalu disesatkan oleh mereka agar dia tidak bisa keluar dari area hutan." cerita tetua kampung
sembari menunjuk amar yang sedang duduk melamun di depan pintu. "Kalau memang kamu mau pulang lebih dulu untuk mengabari keluarga temanmu itu, silahkan saja. Kami akan membantu menjaga dia disini selama kamu tidak ada." lanjut beliau, kali ini matanya menatap jaki dengan lekat
Jaki menghela nafas panjang, ia tidak tau harus memilih pulang atau tetap berada disana sampai waktu yang tidak ditentukan. Hampir semalaman jaki tidak bisa memejamkan matanya, disebabkan oleh pikiran yang bergelut dibenaknya.
Akhirnya, setelah memikirkan masalah itu sepanjang malam, jaki memutuskan untuk pulang lebih dulu, setidaknya ia akan mengabari keluarga amar, agar amar bisa dibawa pulang ke kampung halamannya.
Karena jelas tidak mungkin bila jaki membonceng amar yang keadaannya masih seperti itu dengan jarak tempuh yang masih sangat jauh.
Apapun bisa saja terjadi dalam perjalanan. Bahkan bukannya tidak mungkin kalau mereka akan mengalami kecelakaan jika masih memaksa untuk tetap membawa amar bersamanya.
Apapun bisa saja terjadi dalam perjalanan. Bahkan bukannya tidak mungkin kalau mereka akan mengalami kecelakaan jika masih memaksa untuk tetap membawa amar bersamanya.
----- Setelah berpamitan pada tuan rumah dan warga kampung yang telah membantunya itu, jaki pun berangkat.
Ia menatap amar yang berdiri tanpa expresi tengah di suapi oleh anak tetua kampung. "Mereka akan merawatmu dengan baik selama aku pergi mar. Kamu tenang saja. Aku akan membawa keluargamu kemari." ucap jaki dalam hati
Perjalanan sedikit lambat dari perhitungan, sebab jaki tidak mau meneruskan perjalanan pada malam hari. Ia lebih memilih untuk beristirahat penuh dimalam hari dan melanjutkan perjalanan disiang hari.
Setelah melewati perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya jaki sampai juga di kampung halamannya. Tampak keluarganya sangat kaget melihat kedatangan jaki,
Mereka khawatir pada jaki karena tidak kunjung pulang, apalagi dihubungi tidak bisa. Perlahan2, jaki mulai menceritakan pengalaman ia dan amar yang salah jalur sampai memasuki perkampungan jin.
Karena pandangan mereka dimalam kejadian itu di tutupi, sehingga tidak bisa melihat persimpangan jalan yang dikatakan oleh anak perempuan di warung makan.
Keluarga jaki sangat bersyukur karena jaki dan amar berhasil selamat, meski sekarang keadaan amar belum pulih sepenuhnya. Entah apakah yang sudah dialami amar selama ia menghilang, sampai2 ia seperti sangat ketakutan saat melihat jaki.
Keesokan harinya, jaki ditemani orang tuanya mendatangi rumah keluarga amar. Dihadapan keluarga amar itu, jaki menceritakan semuanya yang terjadi, bahkan saat sebelum mereka memulai perjalanan.
"Amar termakan perkataannya sendiri. Harusnya sebagai orang perantau, dia tahu dan paham betul tentang pantangan berbicara sesumbar." ujar kholik yang merupakan kakak tertua amar
Jaki terdiam, ia baru ingat dengan perkataan amar yang dimaksud oleh kakaknya tersebut. Ya, amar pernah berkata bahwa ia malas sendiri terus, dan dia sangat berharap bertemu jodoh dalam perjalanan.
Dan sekitar 3 hari kemudian, rombongan keluarga amar yang ditemani jaki pun berangkat menuju kekampung yang telah menolong mereka berdua.
Sesampainya di kampung itu, mereka disambut dengan baik oleh warga sana. Terutama keluarga tetua kampung dan orang yang pertama kali menolong jaki.
Amar masih linglung, namun begitu ia melihat kholik, wajahnya terlihat sangat ketakutan. Tubuhnya bahkan sampai gemetar. kholik tersenyum aneh saat melihat amar. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres terjadi.
(Dikampungnya kholik memang dikenal sebagai orang yang paham dengan hal2 seperti itu, karena selain menjadi guru kuntau, kholik juga merupakan orang yang masih mempelajari ilmu2 mistis.)
Didekatinya amar, ditepuknya pundak sang adik, lalu kemudian dengan tiba2 amar langsung muntah. Ia memuntahkan semua isi perutnya yang berupa nasi bercampur cairan kehitaman berbau busuk.
Setelah muntah, tubuh amar langsung lemas. Ia jatuh dan langsung dipeluk sang kakak. Kepala adiknya ia pijat2 dengan lembut. Singkatnya setelah beberapa jam, amar pun terbangun. Wajahnya yang sebelumnya pucat, kini mulai berangsur2 segar.
"Jaki?" ujar amar untuk pertama kalinya setelah ia ditemukan "Ya mar.. Ini aku, jaki." "Kau masih hidup?? Ataukah aku yang sudah mati???" Mendengar pertanyaan dari amar, jaki mengernyitkan keningnya.
"Aku masih hidup mar, kau juga masih hidup. Kita semua yang berada disini masih hidup." "Syukurlah..." "Memangnya ada apa mar??"
"Malam itu, kamu terserang penyakit aneh mar. Bahkan bapak pemilik rumah itu sampai tidak bisa berkata2 saat kamu terkena penyakit itu. Tubuhmu kejang2, darah terus mengalir dari mulutmu. Oleh si bapak, aku diperintahkan untuk tetap menemanimu dirumah, sementara dia pergi untuk
mencari pertolongan dari warga lain. Tapi baru sebentar saja bapak itu pergi, sesuatu yang buruk terjadi padamu..." cerita amar terhenti, bibirnya tampak gemetar saat akan melanjutkan ceritanya lagi
"Aku, aku melihat sendiri bagaimana bola matamu membesar dan pecah, kulit wajahmu hancur dan meleleh seperti lilin yang terkena api ki. Suara retakan tulangmu yang membuatku ngilu terdengar dengan sangat jelas. Aku ingat perkataanmu saat itu, kamu bilang
'sakit mar, tolong aku' tapi aku tidak tau harus berbuat apa. Aku tidak bisa menolongmu ki. Aku hanya melihatmu kesakitan, hingga akhirnya kamu tidak lagi bergerak ki, kamu mati !!"
Jaki menggaruk2 kepalanya setelah mendengar cerita dari amar. Ia tidak tau apa yang sebenarnya dialami oleh amar, tapi dari ceritanya itu, sangat jauh berbanding dengan apa yang di alami oleh jaki.
Jaki tidak bisa berkata2 karena apa yang diceritakan amar itu sama sekali tidak terjadi padanya. Yang jaki tau, saat itu amar menghilang dipagi hari sebelum ia bangun dari tidurnya.
Namun walau terdengar membingungkan, jaki tidak membantah sedikitpun cerita tersebut. Ia lebih memilih untuk mendengarkan dan membiarkan amar menceritakan apa yang ia alami pada hari dia menghilang.
"Dan bagaimana bisa kau berada di hutan selama beberapa hari?" tanya jaki akhirnya Amar terdiam, ia berusaha mengingat kembali apa yang terjadi selanjutnya setelah kematian jaki.
"Aku tidak begitu ingat, setelah kematianmu semuanya jadi samar2 diingatanku ki." "Tidak apa2. Yang penting sekarang kamu sudah ingat dengan kami semua." ujar kholik
----- Setelah kejadian itu, amar maupun jaki memutuskan untuk tidak pergi merantau lagi. Mereka berdua lebih memilih untuk bekerja serabutan dengan penghasilan kecil dikampung halaman ketimbang harus pulang pergi merantau ke daerah lain.
Dan kebaikan para warga kampung yang telah membantu jaki mencari amar itu, tak akan pernah mereka lupakan hingga nanti. ----SELESAI---- Buat ponakan yang ingin menyawer, bisa berupa pulsa di nomor ini : 085654037262 Terima kasih🙏🙏🙏🙏
