Published: September 26, 2023
2
3
73

Narasumber kali ini benar-benar merasa tertekan karena bertahun-tahun dianggap gila karena pernah bercerita kepada temannya mengenai pengalaman mistisnya. Ia sering di ceomoh dan disebut gila akan ceritanya.

Dalam via telepon melalui nomer admin saya, narasumber sampai menangis karena tak ada yang percaya akan ceritanya. Disini saya akan menceritakan pengalaman narasumber kali ini dengan suasana yang takkan ada celah untuk tertawa.

Disclaimer! Cerita ini mengandung unsur dewasa dan sensitif. Mohon jika belum dewasa jangan melanjutkan membacanya.

Ramaikan dulu, cerita ini akan hadir di sore nanti. Matur nuwun 🙏

Lantunan-lantunan suara ayat suci yang tadinya bergema kini mulai senyap ditandai dengan beberapa santri yang mulai masuk ke kamar asramanya masing-masing di malam yang cukup dingin ini. Sudut-sudut lorong pondok pesantren mulai sepi dan menyisakan keheningan saja.

Di salah satu kamar asrama, seorang santri bernama fajri nampak belum bisa tidur, ia masih membaca beberapa pelajaran yang ia belum kuasai. “jri, kita mau ke kamar sebelah. Kamu mau ikut nggak?” Tanya fajar dan hamas

“ora” (tidak) Jawab fajri pada kedua tangannya. Hamas dan fajar pun keluar kamar asrama dan meninggalkan fajri yang masih asik membaca buku pelajaran.

Malam itu sedikit berbeda dari biasanya, malam itu angin malam begitu menusuk tulang. Para santri yang biasanya masih ada yang beberapa diluar kamar kebanyakan hanya di dalam karena hawa dingin begitu menusuk di malam itu.

Malam itu karena terlalu sering membaca buku, mata fajri mulai mengantuk lalu ia pun merebahkan tubuhnya di kasurnya. Tanpa sadar ia pun terlelap karena kelelahan.

“hloh aku neng ndi iki?” (hloh aku dimana ini?) Tanya fajri penuh kebingungan. Tiba-tiba ada wanita yang menghampirinya, sosok wanita cantik dengan pakaian berkebaya berwarna hitam.

Wanita itu mulai mendekati fajri, ia mulai naik ke kasurnya fajri. Wanita berkebaya itu mulai menggoda fajri dengan menanggalkan sedikit demi sedikit pakiannya. Sampai, Wanita itu benar-benar tak memakai satu helai benang pun yang menempel di tubuhnya… Lalu….

Part 1 berupa video. Silahkan menonton ini dulu agar bisa mengikuti jalan ceritanya. Matur nuwun

fajri terbangun setelah dibangunkan oleh bapak kirno (bukan kirno di pocong darjo) disitu pak kirno memberi tahu bahwa ada pak kirno sudah mencarikan tukang tambal ban keliling yaitu temanannya sendiri bernama jarno

“mas, itu saya sudah panggilkan teman saya buat nambal ban. Monggo kita sarapan dulu baru nanti cek motor masnya” Ucap pak kirno pada fajri. Fajri pun bangun dari tempat tidur dan segera mencuci mukanya baru mengikuti Langkah pak kirno.

Di meja makan. “mas, gimana keadaaannya? Udah mendingan?” Tanya istri pak kirno fajri “sudah buk” Jawab fajri “setelah ini mau kemana mas?” Tanya pak kirno yang sesekali menyeruput teh. Fajri nampak bingung, ia tak tahu harus menjawab apa. Lalu…

Fajri tiba-tiba menjawab dengan terpaksa karena melihat tatapan pasangan suami-istri itu yang mengarah padanya. “em—mtt mungkin saya akan ke tempat saudara yang ada di gunung pak, buk”

"owalah yaudah kalau begitu. monggo dihabiskan makanannya nanti baru kita ke depan melihat motor mas fajri" ucpa pak kirno dengan senyum kecil

selesai makan, fajri membantu membereskan pring dan beberapa peralatanh makan yang ada di meja. sebenarnya istri pak kirno berkata "tak perlu" tapi fajri yang merasa tidak enak karena sudah merepotkan berniat membantu sebisanya di rumah pak kirno.

selesai membantu istri pak kirno fajri berjalan de teras yang dimana ada pak kirno dan satu orang pria yang penuh akan keringat karena cuaca yang panas.

tiba-tiba, belum sempat fajri mendekat. ada dua orang yang mendekat ke arah pak kirno. pria cukup tampan dengan bahasa yang sangat sopan dan satu lagi pria yang cukup besar, lebih besar dari manusia pada umumnya. tapi, kenapa mereka membawa pancing? apakah di dekat sini ada

fajri pun penasaran dan mendekat agar bisa mendengar lebih jelas maksud dari dua orang itu. pemuda tampan mengenalkan dirinya bernama "den" dan temannya yang besar, tinggi dan terlihat menyeramkan itu bernama "geni"

"permisi pak, kali T**** ada dimana njih? saya dapt info katanya ada di dekat hutan ini" tanya Den dengan raut wajah kebingungan "hloh mas, mau apa ke sungai itu? bahaya hloh mas sungai itu" ucap pak kirno dengan nada memperingatkan karena khawatir

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/22