Published: October 4, 2023
68
785
3.5k

SURAU Kisah dari sebuah rumah ibadah bekas lokasi bundir di Sumatera Barat Part 2 "Dipan Pemandian Jenazah" a thread

Image in tweet by mwv.mystic

Utas ini adalah lanjutan dari Part 1, bagi yang baru bergabung, Part 1 bisa dibaca terlebih dahulu di utas ini https://x.com/mwv_mystic/statu...

Marhan dan Niko membawa pakaian ganti seperlunya dan beberapa kebutuhan lain untuk menginap di surau Kampung Limau Bareh. Mereka tidak tau akan berapa lama mereka tinggal disana, sehingga mereka membawa pakaian cukup banyak.

Setibanya di kampung Limau Bareh, keduanya pergi menghadap Datuak Kayo terlebih dahulu. Sama seperti dua hari yang lalu, kedatangan mereka disambut ramah Datuak. Bahkan kali ini lebih ramah lagi karena ada senyum lebar yang ditunjukkan Datuak saat melihat Marhan tiba.

“Bapak kagum dengan kemauan kalian..” puji Datuak Kayo sambil menerima salam tangan keduanya. Saat mereka tiba, Salma sedang keluar untuk berbelanja. Datuak Kayo segera mengajak Marhan dan Niko untuk ke surau, beliau menunjukkan hal hal yang perlu keduanya ketahui.

Di perjalanan, Niko menyadari kampung ini cukup sepi meskipun hari masih siang. Rumah rumah penduduk posisinya agak berjauhan dan masih banyak kebun atau lahan terbuka.

Hanya ada beberapa warung yang umumnya menjual jajanan kecil anak anak, dan beberapa lagi berupa warung yang menyediakan tempat duduk namun jumlahnya tidak banyak.

Saat tiba di Surau, Datuak kembali mengabil kunci di ventilasi atas pintu. Lalu beliau membuka pintu surau tersebut yang mengeluarkan suara berdenyit karena kayu pintu menggesek lantai semen dibawahnya.

Nah.. inilah keadaannya. Oiya, tentang tempat tidur, kemarin bapak ingat, disini ada gudang untuk menyimpan beberapa perkakas waktu pembangunan, kalau kalian tidur disana bagaimana? Setidaknya ruangannya tertutup” ujar Datuak.

“Oh boleh pak sepertinya lebih baik daripada tidur di ruang sholat” ujar Marhan. Datuak Kayo mengajak Marhan serta Niko ke ruangan yang ia maksud. Ruangan gudang yg Datuak katakan tadi ternyata ruangan berpintu pucat di samping tempat imam yg sebelumnya Niko lihat.

Datuak memilih kunci yang cocok lalu membuka pintu itu. Aroma lembab dan debu yang cukup tebal sangat terasa hingga Marhan bersin.

“Maaf, bapak belum sempat membersihkan. Jadi masih begini keadaanya” ujar Datuak. Marhan dan Niko melongo ke dalam. Ruangan tersebut berukuran sekitar 2x2.5 meter. Memiliki lubang ventilasi kaca kecil di atas, dan dipenuhi-

-beberapa alat pertukangan yang masih kotor dengan semen kering menempel di gagangnya. “Cukup sih ini pak kalau buat tidur aja.. tapi ini gaada lampunya ya?” tanya Niko setelah mengedarkan pandangannya ke ruangan itu dan sadar tidak ada bohlam di langit langit gudang ini.

“Oh iya, ini juga yang bapak lupa sampaikan sebelumnya. Karena surau ini sudah lama tidak dipakai, jadi listriknya sudah diputus. Nanti bapak coba hubungi dulu PLNnya, tapi sementara kalian pakai dulu lampu emergency di rumah bapak untuk malam ya?..”

Niko dan Marhan tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya. “Biasanya berapa lama buat bisa pasang listrik lagi pak? Soalnya kan ini kita butuh buat mic, toa, dan lain lain” jelas Marhan.

“harusnya tidak lama ya. Karena ini sudah pernah dipasang listrik, seharusnya lebih cepat daripada pemasangan baru. Bapak rasa dua atau tiga hari kedepan sudah bisa masuk”

Niko dan Marhan saling berpandangan. Ini diluar dari rencana mereka, tapi kembali pulang hanya karena masalah listrik yang belum masuk terdengar sangat pengecut.

“Baik pak, semoga cepat ya. Paling kami butuh juga untuk cas hape pak. Tapi ini batrainya cukup awet, kira kira dua hari sekali butuh dicas” ujar Marhan sambil menunjukkan handphone monokrom miliknya.

“Bapak usahakan. Kalau ada kebutuhan mendesak, entah itu listrik, makanan atau apa yang dibutuhkan, bisa ke rumah bapak saja” balas Datuak meyakinkan.

Akhirnya Marhan dan Niko setuju. Datuak kembali menambahkan hal hal yang mungkin Marhan dan Niko perlu tau. “alat alat kebersihan, sapu, pel, ada disini. Quran ada disini, kalau sajadah kita ada 3, dulu dua untuk shaf laki laki dan satu untuk shaf wanita di belakang.

Tirai pemisahnya jamaah perempuan disini, udah berdebu, jadi mungkin bisa dicuci dulu sebelum dipasang lagi” ujar Datuak sambil mengarahkan Marhan dan Niko ke beberapa perlengkapan di Surau itu.

Setelah dirasa cukup, ketiganya berjalan keluar. Kali ini Datuak mengarahkan kemana mereka pergi kalau ingin buang hajat. “Surau ini belum ada toiletnya. Baru ada tempat wudhu saja. Kalian bisa mandi dan mencuci di tempat wudhu itu karena sudah ada pintunya.-

-Tapi kalau mau buang air besar, kalian bisa kesini..” Datuak menjelaskan sambil berjalan ke area belakang surau. Disana terdapat sebuah sungai kecil percabangan dari sungai besar di sebelahnya. Ada sebuah kotak dari seng dan anyaman bambu melintang di atas sungai kecil itu.

Kotak itu ditutupi dengan satu triplek kayu yang digunakan sebagai pintu. “nah ini toiletnya. Biasa dipakai sama orang orang yang pulang ke sawah juga. Pintunya dari triplek itu, bisa digeser aja” jelas Datuak.

Marhan memasang wajah tidak nyaman. Kotak wc itu tidak begitu tinggi dan tidak benar benar tertutup. Ditambah lagi aliran air yang tidak begitu kencang sangat memungkinkan ada beberapa “hal” yang tidak hanyut disana.

Datuak melihat wajah tidak nyaman Marhan, terlebih ia tau Marhan adalah murid pindahan yang dulu tinggal di kota saat masih di Pulau Jawa.

“maaf kalau banyak kurangnya seperti ini ya.. kalau Surau sudah ramai, nanti InsyaAllah kita bisa lanjutkan pembangunannya. Disini memang toilet masih jarang di rumah rumah, karena air sungai masih cukup deras dan berlimpah” ujar Datuak.

“ah baik pak, tidak apa apa. sepertinya bukan masalah” ujar Marhan dengan senyum dipaksakan. Setelah pengarahan singkat, ketiganya kembali ke rumah Pak Datuak Kayo.

Ketika ketiganya sampai di rumah, Salma sudah ada di dalam dan sedang menyiapkan makanan. Marhan dan Niko dipersilakan makan bersama. Ketika Salma menghidangkan makanan, pandangannya bertemu dengan Marhan.

Keduanya segera memalingkan mata masing masing. Namun setelahnya ada senyuman tipis terlihat pada Marhan dan Salma. “Nanti untuk makan siang dan malam, bapak atau Salma akan antar ke surau. Tapi makannya seadanya ya, tergantung Salma lagi mau masak apa haha” canda Datuak Kayo.

“Ini udah cukup banget kok pak..” jawab Marhan canggung. “Marhan kok baagiah nasi jo garam asal nan maagiah garamnyo Salma, tamakan jo inyo mah pak, aman”

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/31