Published: November 7, 2023
207
2.7k
12.7k

“Aku melihat sosok kakek-kakek kurus, telanjang, dia berjongkok di dekat lemari sambil memakan janinku yang keguguran” Sejak saat itu hidup keluarga kami sudah tidak lagi tenang. “GETIH IRENG” -SANTET DARAH TURUNAN- A THREAD. #CeritaSerem

Image in tweet by JEROPOINT

Sebelum kita mulai, berikut beberapa potongan CCTV dari narsum yg berkaitan dengan teror di rumahnya, Vidio 1 : kursi gerak Vidio 2 : narsum nyaris tertimpa pot gantung.

Cerita kali ini lumayan bikin gw deg-deg’an sewaktu riset. Ada beberapa dokumentasi dari narasumber yg akan gw bagikan seiring thread berjalan. Silahkan tandai, RT atau markah dulu judul utas teratas agar tidak hilang atau kelewat update-nya. Bentar lagi kita mulai,

Mari kita mulai, Panggil saja aku Rina, Aku seorang ibu dari satu anak yang berusia 7 tahun. Saat ini aku sedang dalam ancaman santet dari mantan selingkuhan suamiku yang katanya akan membunuhku dalam 4 bulan.

Sebelumnya, terima kasih Bang Jero yang telah memberi kesempatan untuk aku bercerita hal yang sebenarnya aku sendiri sudah ada di titik pasrah. Bingung mau mulai dari mana, aku berpacaran dengan suamiku sudah cukup lama sejak aku masih SMA dan dia baru lulus kuliah,

kemudian memutuskan untuk menikah muda saat usiaku awal 20-an. Aku sudah sangat percaya sama suamiku meskipun rentang usia kami berjarak 8 tahun.

Semua bermula saat hari pernikahan kami, ditengah riuhnya acara pengisi musik, tiba-tiba aliran listrik padam. Kami menikah di gedung yang seharusnya menyediakan mesin diesel untuk supply listrik, beberapa saat tercium bau gosong yang amat pekat menyerbak di seluruh ruangan

Tamu-tamu sempat panik, dikhawatirkan ada aliran yg korslet sehingga menimbulkan kebakaran, namun setelah di cek, semua jalur listrik normal. Mesin diesel generator pun seperti hampir terbakar karena overheat, namun sumber bau gosong ini tampaknya jelas bukan bersumber dari sana

ketika petugas memeriksa bak air yang digunakan sebagai pendingin, rupanya di sana terdapat banyak sampah yang sampai menyumbat selang air. Sampah di bak kotrol itu berbau busuk karena juga ada bangkai-bangkai tikus di sana.

Kami gak habis pikir, bagaimana bisa ada manusia sejahat ini di hari yang sakral bagi kami. Setelah bak kontrol dibersihkan, aliran listrik akhirnya menyala lagi, dan bau-bau gosong di dalam ruangan pun hilang seketika.

Tiga hari setelah menikah, kami tinggal di rumah orang tuaku, setelah itu kami pindah ke rumah baru yang telah disiapkan suamiku. Rumah kami tidak terlalu besar, berada di tepi kota S di Jawa Tengah, sebrang rumahku itu ada kebun kecil milik warga sekitar.

Saat hari pertama kami pindah ke rumah itu, aku sangat terkejut melihat lantai rumah dipenuhi oleh tanah yang berserakan di tiap-tiap ruang.

Suamiku pun merasa aneh, menurutnya, sebelum ke sini, dia sudah menyuruh orang untuk membersihkan rumah. Suamiku langsung memanggil Pak Muri, tukang yang ditugaskan untuk bersih-bersih—

Pak Muri yang masih warga sekitar menghampiri rumah kami, dia pun kelihatan kaget dan sumpah-sumpah kalau sekitar dua jam lalu, dia dan istrinya sudah bersih-bersih termasuk pel semua ruangan.

Karena mungkin gak enak sama kami, Pak Muri langsung membersihkan lagi rumah itu, aku pun tanya ke suami, “ada lagi yang punya kunci ini selain kita dan Pak Muri mas ? “ “Gak ada, kita punya 3 kunci. 2 ini ada di aku, 1 aku kasih Pak Muri.” Jawabnya bingung.”

Malam pertama di rumah itu rasanya panas banget, padahal AC sudah disetel di suhu terendah. Begitu pun malam-malam berikutnya, padahal daerah rumah kami tinggal ini termasuk dataran tinggi.

Tiap malam, aku merasa tidak nyaman, dapurku pun beberapa kali ada butir-butiran tanah yang entah bersumber dari mana. Aku cerita sama ibuku. Mengikuti sarannya, aku pun melakukan syukuran rumah dengan menggelar pengajian dan mengundang warga sekitar.

Habis magrib, aku bersiap-siap di runah dibantu ibuku, suamiku masih diperjalanan pulang. Waktu itu, aku melihat sosok kakek tua berperawakan kurus mengenakan koko serba hitam menjadi orang pertama yang datang ke rumah.

Aku menduga itu ustad yang kami undang, “Pak sudah datang, acaranya tapi mulai habis isya.” Sapaku,

Dia tidak menjawab, hanya mengangguk. Aku mempersilahkannya duduk, pergi ke dapur untuk menyuguhkan kopi. Ibuku memintaku untuk menceritakan kejadian yang aku alami pada ustad, katanya agar didoakan.

Kuberikan cangkir kopi itu, dan pelan-pelan aku mencurahkan semua yang kualami di rumah ini. Ustad itu tak menjawab apa-apa, dia hanya manatap lurus ke arah pintu yang terbuka,

“Aku minta tolong didoakan pak, agar nyaman dan selamat.” Ucapku, kemudian pamit ke belakang karena tidak mendapat tanggapan apa-apa.

Tak lama, beberapa warga datang, dan suamiku pulang, dari dapur aku mendengar suaranya mengobrol dengan seseorang, aku menghampiri ke depan, “Sayang, ini pak ustad Tata. Dia yang mimpin syukuran nanti malam.” DEGG!!

Sumpah aku syok ketika sosok kakek tua berpakaian koko hitam tadi sudah tidak ada, dan kopi yang kusuguhkan pun masih utuh di tempatnya. Aku sempat keluar rumah memastikan ke sekitar, tapi sosok kakek tua itu benar-benar tidak ada.

Aku masih berpikiran positif, mungkin itu warga sekitar juga, cuma aku salah tangkap mengiranya ustad. Pengajian pun dimulai. Namun kalian tahu? Di tengah tahlil aku melihat sosok kakek tua itu lagi berdiri di depan rumah sambil menatap tajam dan--

dia menunjuk tepat ke arah wajahku, aku sempat menjerit spontan kaget, mencengkram lengan ibu yang duduk di sampingku. Entah kenapa aku merasa takut banget, seperti terintimidasi. “kenapa?” tanya ibu

Tapi saat aku melihat lagi ke depan, sosok itu sudah tidak ada. Aku cerita sama suamiku, tapi dia tidak percaya, dia bilang “kalau pun benar, paling itu warga.”

Setelah malam itu, aku sering mimpi aneh, beberapa kali juga aku mimpi kakek-kakek itu dalam rupa menjijikan, kurus kering, air liurnya menetes, dia seperti ‘maaf’, cabul.

Sosok itu berupaya memperkosaku dalam mimpi, itu terus berulang, aku benar-benar tidak nyaman dan merasa was-was di rumah sendiri.

Semakin lama, bukan hanya hawa rumah yang panas, tapi hubungan rumah tangga kami juga seperti sumbu pendek, kami kerap kali bertengkar untuk hal-hal yang sebenarnya sepele.

Beberapa bulan setelah menikah, aku hamil anak pertama, semejak hamil hampir setiap hari aku menyapu rumah dan menemukan tanah-tanah gempur berserakan.

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/31