Published: July 7, 2024
3
39
169

Tidak ada yang menabur umpan di sungai itu. Karna sungai itulah yang gemar menabur umpan pada manusia. Di bayar nyawa. @IDN_Horor @horrornesia @bacahorror #ceritahorror #horrorstory

Image in tweet by JIKU

Cerita akan ada, setelah MENIK tamat.

Sebelum memulai cerita, saya minta doanya untuk Danang (nama samaran) supaya dapat beristirahat dengan tenang, dan damai. Semoga amal ibadahnya selama hidup bisa di terima dan di tempatkan di tempat terbaik di sisi Tuhan. Amin.

............

Jalanan sawah mulai terlihat ramai, para petani berbondong-bondong pulang saat langit mulai gelap. Beberapa kali Sulis sempat bertukar sapa dengan mereka, sebelum jalan benar-benar sepi.

Kandang ayam tempatnya bekerja memang sengaja di bangun jauh dari pemukiman warga, tepatnya di jalan lahar, di tengah sawah, karena pemilik kandang enggan menggangu kenyamanan warga dengan bau kotoran hewan ternak.

Sulis melambaikan tangan, teman-teman nya sudah menunggu, siap dengan api unggun dan sekarung jagung pemberian dari warga.

"Suimen to Mbak.. Kayune selak entek" (Lama banget sih Mba, kayu nya keburu habis) gerutu Galih.

"Tak golekne silihan pancing ilho" (Aku cariin pinjeman pancing lo) ucap Sulis menyerahkan kresek hitam yang dirinya tenteng.

"Wes enek jagung mosok sek arep mancing to mbak" (Sudah ada jagung masak mau mancing mba?) Abi menunjuk jagung sekarung besar.

"Yo ge sesok sesok to, ga ge saiki" (Buat nanti, ga buat sekarang) Sulis duduk di antara Abi dan Galih, sedangkan Krisna dan Wira sibuk mengupas kulit jagung yang akan di bakar.

"Mbak, Koh Tanto nyari pegawai baru tuh, si Rudi tau-tau minggat e, kerjaannya di tinggal gitu aja" Ucap Krisna.

"Wes eroh aku" (Sudah tau aku) Sulis menyesap rokoknya, raut wajahnya keruh, sebenarnya kandidat untuk pegawai baru sudah ada, tapi hatinya masih belun srek.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi saat Sulis menyesap kopi pahitnya, semalem benar-benar gila, barisan botol masih berserak di dekat api yang sudah tinggal arang, yang lain masih tidur sembari saling menarik ujung selimut yang tidak muat di pakai ramai-ramai,

sedangkan Sulis sudah lebih dulu bangun. Tiga jam cukup untuk membuatnya segar. Di pungutnya botol-botol itu, menghilangkan jejak kenakalan semalem. “Wook wook..” Warlok, menghampiri Sulis, anjing hitam dengan sorot mata lembut itu juga sudah siap bekerja.

“Wes tangi awakmu? Kene mangan sek” (sudah bangun kamu? Sini makan dulu) Sulis mengeluarkan ayam bakar dari dalam kantong keresek, ayam yang di rasa sudah teler, Sulis eksekusi untuk mengisi perut semalem, dan satu ekornya Sulis simpan untuk sahabat, sekaligus rekan kerjanya.

Warlog menyantap ayam itu dengan lahap, sesekali Sulis mengelus kepala anjing itu, sedang tangan yang satunya memegang handphone menunggu jawaban dari seseorang “ Hallo mbak?” suara dari Seberang telephone.

“Iki nko jam 7 geneo kandang, aku enek gawean ge awakmu” (Nanti jam 7 kamu ke kandang, aku punya pekerjaan buat kamu” ucap Sulis. ………..

Tok tok tok… “masuk..” Koh Tanto terlihat sumringah “Gimana Lis, udah ketemu gantinya Rudi?” tanya Koh Tanto “sudah Koh.. Nang, masuk sini” Danang, masuk dengan kikuk, dadanya deg-degan takut tidak jadi kerja, takut kalau-kalau calon bos nya tidak cocok denganya.

“Gausah takut loh, wong saya gak gigit, beda lagi kalau kamu ketemu Warlog, baru boleh takut, ya to Lis?” celetuk Koh Tanto “ Haha, iya lak kamu ketemunya Warlok baru kamu takut,

tapi selama kamu gak ganggu ayam ya dia ga bakal ganggu awakmu” tambah Sulis, Danang hanya tersenyum simpul.

“Ya, pokoknya nanti kamu nurut aja sama Sulis, di suruh apa ya manut aja.. terus pesenya jangan ganggu ayam, jangan bikin ayam setres,

trus kalau bikin acara jangan sampek jam 5 pagi, karna jam 6 pagi semua harus bersih, saya datang ke kandang semua harus siap kerja, ngerti Nang?” nada Koh Tanto terdengar pelan Namun mimic wajahnya serius.

“Baik pak, makasih ya pak ya..” Danang berterimakasih dengan sungguh, akhirnya apa yang di hawatirkan Danang tidak terjadi.

“Nah saiki awakmu melu aku” (Nah, sekarang kamu ikut aku) ucap Sulis, Danang mengangguk, lalu membuntuti Sulis. Sulis memulai tur kecilnya, Danang di ajak berkeliling kandang, mulai dari gerbang yang di jaga Galih dan Warlok, lalu halaman depan yang di naungi pohon mangga madu,

tempat di mana anak-anak membuat acara, lalu kandang yang berisi 5000 ayam, kolam lele yang ada di bawah kandang, lalu di sisi kanan ada ruangan Koh Tanto,

di sebelah lagi ada Gudang berisi obat, pakan, dan keperluan ayam yang lain, dan ruangan selanjutnya dapur yang di Kelola apik oleh Mbok Sih.

“Nko tugasmu makan pitek, pitik iki makane peng telu, isuk jam 7, sore jam 4, karo bengi jam 12, nah nko iso gentian karo Abi.. lak kebagian bengi rausah wedi, nde ngarep kan enek Galih karo Warlok”

(nanti tugas kamu ngasih makan ayam, nah ayam ini makannya tiga kali, pagi jam 7, sore jam 4, sama malam jam 12, nanti gentian sama Abi, kalau kebagian malam gausah takut, di depan kan ada Galih sama Warlok) jelas Sulis.

“Iya Mbak, makasih yo mbak, wes gowo aku rene, maaf yo mbak lak ndisek ibuku tau gae gelo nde samean” (iya mba, makasih y amba, sudah bawa aku kesini, maaf y amba kalau dulu ibuku pernah bikin mbak kecewa)

“Uduk salahmu, seng pasti Nang, opo seng mok delok aku neng kene ojok sampek metu ko kandang. Arep aku kayang, jungkerwalek, ojok sampek wong omah ngerti.”

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/31