-RUMAH RIAK- Horror Story- @bacahorror #bacahorror
“ini rumahnya ma?” “iya pak. Teman yg saranin, halamannya luas, pohonnya rindang dan tanahnya itu loh, gak gersang, kayanya ibuk bisa produktif kalau tinggal di sini” “harus di sini ya?” “iya. Dari pertama mama lihat, mama ngerasa kalau berjodoh sama rumah ini”
Pak Prasto terdiam melihat rumah itu. Tidak ada yg salah dengan rumah yg saat ini ada dihadapannya, karena seperti apa yg dikatakan oleh Dona, isterinya, dari luar rumah itu, kelihatan sejuk, damai, serta tenang seperti yg diinginkan oleh seluruh keluarga,
hidup dalam ketenangan di bawah atap yg sama sembari menunggu hari tua yg semakin dekat. “baik ma. Kita beli rumah ini ya” Sekilas terlihat senyum bu Dona mendengar keinginannya bersambut hangat dari buah kalimat pak Prasto yg memang dikenal sayang sama isteri.
Hari itu juga. Ditengah langit yg terlihat mendung, sepasang suami isteri itu kemudian pergi meninggalkan tempat itu tanpa tahu latar belakang apa yg sudah menunggu mereka di sana.
Disebuah panti jompo di kota S, pak Prasto bersama Kandar, teman baiknya sedang duduk menunggu disebuah ruang tengah yayasan, menunggu setelah perawat yg bekerja di tempat itu mengatakan kepada mereka akan segera memanggil mbok Yah. orang yg tengah mereka berdua cari.
Kandar duduk sembari merogoh kantung celananya. Mencari-cari sesuatu. Tanpa mereka sadari, Prasto dan Kandar kemudian dikejutkan dengan suara parau dari burung gagak hitam yg tengah bertengger di atas tepi dahan sebuah pohon randu.
Kandar dan Prasto sempat menengok sebelum burung gagak berbulu hitam itu melesat terbang, pergi.
“tenan awakmu bakal tuku omah iku? Koyo gak onok omah liyane ae, nggon sing muk pilih iku dalan e sepi, jarak omah e yo adoh-adoh” (beneran kamu akan membeli rumah itu? Kaya gak ada rumah lain aja, tempat yg bakal kamu pilih itu jalannya sepi, jarak antar rumahnya juga jauh-jauh)
omel Kandar yg entah kenapa merasa tidak nyaman waktu pertama kali Prapto mengajaknya untuk melihat rumah itu dengan mata kepalanya sendiri. “ya gak papa dong, lagian isteriku sendiri yg mau, sebagai suami nurutin isteri itu bisa bawa berkah” celetuk Prasto. “yowes, karepmu!!”
Kandar kemudian berhasil mencari benda yg dia cari, sebatang rokok kretek dari kantong pakaian miliknya ketika seorang perawat senior kemudian datang dan menatap tajam sembari melirik kearah kertas peringatan “dilarang merokok” seketika Kandar tersenyum canggung,
malu sekaligus tidak enak hati, ia kemudian memasukkan kembali batang rokok itu ke kantong pakaian miliknya. “bener panjenengan yg mau ketemu sama mbok Yah?” tanya seorang perawat wanita yg usianya tampak lebih tua dari mereka berdua,
usianya mungkin terpaut beberapa tahun dari usia Prasto dan Kandar yg sudah menyentuh kepala 4, Prasto pun mengangguk.
“iya ibuk, saya yg ingin ketemu sama-” belum selesai Prasto mengatakannya, perawat senior yg memperkenalkan dirinya dengan nama ibu Tisni kemudian memotong ucapan pak Prasto, membuat pria itu sempat tertegun sejenak di tempatnya.
“begini” ucap ibuk Tisni agak sangsi, ia terlihat bingung harus mencari kata-kata yg tepat untuk berbicara dengan 2 orang tamu asing yg datang tiba-tiba kepanti jompo tempat dia bekerja, “kalau boleh tahu, ada urusan apa anda ingin ketemu sama beliau?”
Prasto sempat melihat Kandar, tidak nyaman dengan situasi canggung ini. Tanpa membuang-buang waktu. Prasto kemudian mengatakan maksud kedatangannya ke tempat ini, “Saya dengar kabar kalau mbok Yah sedang proses menjual rumah"
"Saya kemari mau membeli rumah mbok Yah untuk keluarga kecil saya” Ada perubahan gestur muka pada ibuk Tisni, entah kenapa wajah orang itu sempat menyisyaratkan ekspresi takut, cemas, gelisah, namun dengan cepat wanita itu bisa kembali mengendalikan situasi.
Kandar yg merasa kalau pembicaraan ini terasa menegangkan mencoba untuk mencairkan suasana. “begini buk. Teman saya ini, Prasto asalnya dari luar pulau jawa, isterinya baru saja dapat kenaikan pangkat, mereka semua sedang mencari tempat tinggal dan kebetulan,
rumah mbok Yah menarik perhatian mereka ini, jadi kami berdua ingin ketemu sama beliau untuk membicarakan hal ini lebih jauh, apa boleh kami berdua ketemu sama mbok Yah?”
Ekspresi wajah ibuk Tisni masih menunjukkan sikap yg siaga, bahkan ada sirat ketakutan, namun perkataan Kandar bisa membuat wanita itu mengangguk lalu berpamitan masuk, sembari berujar lirih sekali kepada mereka berdua. “tunggu di sini sebentar ya..”
Prasto sempat merasakan kalau sebelum Kandar menenangkan situasi, entah kenapa wanita paruh baya itu seperti ingin mengatakan sesuatu kepada mereka namun sayang, entah kenapa kalimat itu tak kunjung keluar seolah berhenti diujung tenggorokan.
Tak berselang lama, datang perawat lain yg mendorong kursi roda seorang wanita tua yg menutupi kepalanya dengan kain tipis berwarna hitam pekat, Prasto dan Kandar melihat wanita tua itu duduk, meringkuk di atas kursi roda, dengan bola mata putih pucat.
Prasto sebelumnya tidak mengira kalau usia wanita ini sangat lah tua, ia terhenyak sejenak, ia memperkirakan mungkin usia beliau menginjak akhir 70-an, terlihat dari gestur tubuh ringkih kurusnya dengan rambut berwarna putih keabu-abuan.
Prasto kemudian melihat sorot pandangan sayu dengan kerutan pada wajahnya yg membuat siapa pun yg melihat wanita tua itu pasti setuju kalau orang yg ada dihadapan mereka ini sudah tak memiliki gairah untuk hidup.
Kandar yg melihat itu seketika berlutut mencium tangan Mbok Yah, kemudian diikuti Prasto, mereka berdua mengangguk seraya mengucap salam kepada wanita tua itu, namun sayang, tak ada jawaban ketika mereka berdialog. Hanya si perawat yg berusaha membantu dalam percakapan ini.
Prasto kemudian memulai pembicaraan, memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebelum bercerita tentang keluarganya serta maksud kedatangannya ketempat ini.
Dalam setiap perkataan yg keluar dari dalam mulutnya, mbok Yah hanya duduk dan melihat Prasto dengan pandangan malas, ia seperti tidak tertarik serta tidak peduli dengan kehadiran pria itu, sementara Kandar sesekali mencoba untuk membantu menerjemahkannya dalam bahasa jawa alus,
di sinilah letak keanehan kemudian terjadi saat Prasto menyebut rumah itu dan menyebutnya dengan nama rumah riak, seperti yg dia dengar dari beberapa warga lokal yang ada di sana. Ekspresi wajah mbok Yah tiba-tiba berubah menjadi senyuman yg terlihat aneh.
Senyuman itu cukup membuat Prasto merasa bingung dengan perubahan sikap yang tiba-tiba seperti ini. Senyuman itu juga sempat membuat Prasto merasakan perasaan yg tidak nyaman, dadanya sempat terasa sesak namun ada guratan ekspresi yg membuatnya sedikit terganggu.
“ngoten buk. Yok nopo, saget?” (begitu buk, gimana, boleh?) tanya Kandar masih mencoba untuk membantu kesepakatan ini. Mbok Yah masih melihat wajah Prasto, ia masih saja tersenyum aneh diikuti tatapan yg membuat Prasto merasa semakin tidak nyaman.
Tapi Prasto mencoba untuk berpikiran positif, mungkin apa yg dilakukan oleh wanita tua itu dikarenakan faktor usia yg membuat mbok Yah menjadi kikuk seperti ini.
