JANGAN MATIKAN LAMPUNYA! -sebuah cerpen misteri- @ceritaht @IDN_Horor @bacahorror @C_P_Mistis @menghorror @threadhororr @autojerit @bagihorror @SpesialHoror @creepylogy_ #threadhorror #bacahoror #ceritahorror #ceritaseram #bagihorror #bacasajalah
“Yaap! Sudah dua jam nih ya kamu dengerin lagu-lagu top 40 di One Night Air! Jangan lupa besok ketemu lagi di jam yang sama dan stay terus di 107.9 TOP FM! Midral pamit.. Bye!”
Selesai sudah siaranku. Saatnya berkemas. Aku keluar dari ruang siar yang kecil ini menuju ruang master control. Ruang siar di radioku hanya seukuran 3×4 meter.
Maklum, ini adalah radio komunitas di kampusku. Tidak perlu ruang yang terlalu besar untuk memberikan informasi terbaik bagi mahasiswa kampusku.
Biasanya di ruang master control banyak temanku berkumpul. Tapi tumben, ini tinggal aku sendirian. Wajar saja. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00.
Biasanya sih bagian teknik ada di sini untuk mematikan pemancar. Tapi masalahnya aku adalah bagian teknik baru yang bertugas malam ini. Beruntungnya aku malam ini.
Cerpen ini juga bisa kamu baca di: https://bacasajalah.com/ternya...
Sesudah aku mematikan semua peralatan siar aku mulai melangkah ke saklar lampu di ruang siar. Hmmm.. Aku baru sadar.
Kalau aku datang pagi-pagi ke sini, lampunya selalu dibiarkan menyala. Seharusnya kan petugas malam mematikannya.
Hitung-hitung hemat energi, hemat biaya. Tanpa ambil pusing kumatikan lampu ruang siar, begitu juga semua lampu yang ada di masing-masing ruangan. Lalu aku pulang.
Esoknya... “Siapa yang mematikan semua lampu di radio semalam?!” tanya seniorku dengan nada tinggi kepada kami yang kebetulan lagi berkumpul di ruang master control.
“Aku kak.” Jawabku polos.
“Kamu tahu nggak? Kamu nyadar nggak? Lampu radio itu nggak boleh dimatiin.” Ujar seniorku. “Lha emang kenapa? Kan hemat listrik kak.” Jawabku, lagi-lagi polos.
“Midral… coba deh ya suatu saat kamu matikan semua lampu yang ada di radio. Biarkan pintu ruang siar terbuka. Lalu kamu keluar dan lihat dari kaca.” Senior berbicara dengan nada rendah. “Emang apa’an??” tanyaku heran.
“Yaa kamu bakal ngelihat ada satu orang yang siaran sendiri di sana. Dan pas dia sadar kalau kamu ngelihatin dia, dia bakal tiba-tiba ada di belakangmu dan ngajak kamu siaran… di dunia sana.. Hiiiiii..!!” ujar seniorku menakut-nakuti.
Beberapa teman perempuan langsung teriak setelah mendengar cerita itu. Aku sendiri cuma melongo gara-gara ngelihat ekspresi konyol seniorku.
“Kayaknya kamu nggak takut ya?” tanya seniorku. “Percaya aja nggak.” Jawabku datar.
“Ya udah. Aku tantang kamu. Nanti malam. Sehabis siaran. Kamu matikan semua lampu radio dan kamu intip dari kaca, siapa yang ada di sana!” tantang seniorku.
“Oke.. aku terima tantanganmu.” Jawabku super datar. “Heh Kak..emang itu beneran? Midral..kamu sungguhan berani?” tanya teman-teman yang ada di situ.
Seniorku cuma tersenyum sinis. Aku sendiri cuma diam. Tidak ada di antara kami yang benar-benar menanggapi kegelisahan teman-temanku.
Malam pun tiba. Karena tantangan itu antara aku dan seniorku, jadi yang bertugas malam ini kusuruh pulang duluan. Lalu sesuai “prosedur” supaya ada penampakan, aku matikan semua lampu dan bersembunyi di dekat kaca.
Kuintip ke arah ruang siar. Sepuluh menit, Lima belas menit. Tidak ada tanda-tanda. Sudah kuduga, senior hanya membual. Lebih baik aku pulang saja.
Tapi tiba-tiba, kudengar suara pintu ruang siar berderit. Cepat-cepat aku bersembunyi lagi. Mengintip di balik kaca. Hening. Tidak ada apapun.
Kuamati lagi mic yang ada di atas meja. Begitu juga kursi di belakangnya. Tidak ada siapa pun. Sepertinya suara tadi hanya perasaanku. Lagipula, malam memang agak suram kali ini. Angin juga bertiup kencang di luar sana.
“Krieeeet!!” kudengar suara kursi bergeser dari ruang siar.
Aku kembali mengintip. Kali ini aku sungguh-sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Ada sesosok bayangan duduk di belakang mic.
Hanya mengeluarkan desah napas yang entah kenapa kudengar begitu dekat. Senior benar! Kini aku harus memikirkan bagaimana caranya supaya aku bisa keluar sebelum hantu ruang siar itu menyadari kehadiranku.
Aku mulai panik. Kuintip lagi ruang siar untuk memastikan keadaan. Tiba-tiba saja.. sebuah wajah mengerikan menatapku sangat dekat dari balik kaca.
“MAU NGGAK KAMU NEMENIN AKU SIARAAAAN???!!”
“Hwaaaa!!!! Hwaaaa!!! Hwaaaaaaaaaaaaa!!!” aku berteriak sejadi-jadinya. Tapi aneh. Lampu ruang siar dan master control kini sudah nyala. Kudengar suara tawa. Suara yang sudah tidak asing lagi. Senior. Seharusnya aku sadar.
“Kamu lihat ekspresinya tadi? Apa sudah terekam?” tanya seniorku pada temannya. “Sudah dong! Pasti lucu banget nih kalau dishare ke temen-temen.” Jawab seniorku yang lain.

