Published: January 11, 2025
6
142
644
Image in tweet by Cerita Nyata dan Fiksi

Siapa yang tidak menyukai nasi goreng? Masakan sederhana khas Indonesia ini bahkan menduduki peringkat kedua sebagai masakan terenak di dunia setelah rendang.

Penjual nasi goreng asli Indonesia memiliki caranya yang khas dalam menyampaikan sajian nikmat ini ke para pelanggannya.

Tidak melalui rumah makan mewah, juga tidak perlu mempromosikannya besar-besaran melalui iklan dengan anggaran bermilyar-milyaran.

Para penjual nasi goreng cukup menawarkannya dengan sebuah gerobak yang diterangi oleh lampu petromax.

Suara kompor gas yang membara dan sesekali suara spatula yang dipukul-pukulkan ke pinggir wajan menjadi pertanda sendiri bagi penggemar nasi goreng bahwa makanan kesukaan mereka telah berada di dekat mereka.

Setidaknya itu adalah cerita indah mengenai nasi goreng yang sudah tidak asing bagi sebagian besar warga Indonesia.

Tapi, sisi lain dari nasi goreng dan penjualnya? Apa kalian sudah pernah mendengarnya? Bagaimana jika kita mencoba mendengarkan kisahku mengenai sisi gelap nasi goreng?

Kisah ini kualami semasa SMA dulu. Sebuah kisah yang mengubah pandanganku mengenai ‘kehidupan’ dalam bentuk lain, dan juga mengubah sudut pandangku mengenai pekerjaan sebagai penjual nasi goreng.

SMA-ku adalah SMA dengan basis pendiikan asrama khusus laki-laki. Benar. Jangan harap kamu akan melihat kisah romansa para lelaki di masa SMA, seperti perjuangan memperebutkan si cewek idola kelas, atau berlomba-lomba terlihat keren supaya populer di kalangan siswa perempuan.

Jangan harap. Yang ada di sini hanyalah keseruan sebagai sesama pria dalam menghadapi getirnya melihat pria yang sama tiap hari.

Setiap hari bertemu dengan teman-teman yang itu-itu saja. Tidak ada yang menarik dari sesama pria. Sakunya rata. Celana pun lurus ke bawah bagaikan batang pohon jati.

Tak pernah ada adegan di mana rambut terkibas dengan slow motion, lalu para siswa pria akan terpana begitu saja. Tak ada adegan geng-geng cewek yang berusaha saling mencelakai demi memperebutkan seorang cowok paling hits se-SMA.

Pada akhirnya, di sini kami belajar untuk terlihat keren dengan cara lain. Kami bersaing dengan belajar segiat-giatnya. Menggali potensi bakat kami alih-alih memikirkan masalah gebetan.

Membangun semangat persaudaraan satu sama lain. Dan yang terpenting, pada akhirnya kami merasa memiliki keluarga, sekalipun tak jarang kami juga berselisih pendapat karena berada dalam ‘satu rumah’.

Salah satu kegiatan tahunan yang harus kami jalani pada tingkat dua adalah ‘gelandang rohani’. Ini adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan untuk menemukan jati diri dan lebih mengenal karakter asli teman seasrama. Bagaimana bisa?

Cerita ini juga bisa kamu baca di: https://bacasajalah.com/penjua...

Para pembimbing kami biasanya akan membagi-bagi kami ke dalam sebuah kelompok acak beranggotakan 5-7 orang.

Setiap orang hanya akan dibekali sebuah amplop dengan sebuah surat keterangan dan uang sebesar dua puluh lima ribu rupiah.

Itu harus bisa digunakan untuk bertahan hidup selama kurang lebih tiga hari di luar setelah sebelumnya kami sudah harus membelanjakannya dengan setengah kilo beras, tiga bungkus mie instan, dan seperempat kilo gula.

Jangan bayangkan harga-harga itu pada zaman sekarang karena kejadian ini berlangsung kurang lebih pada tahun 2006-an. Jadi dengan uang dua puluh lima ribu itu pun kami masih memiliki sisa.

Seperti namanya: gelandang, maka kami harus memikirkan sendiri cara agar sampai ke tempat tujuan pertama dengan cara kami sendiri.

Setelah itu, seperti pada rencana tahun-tahun sebelumnya, di pos pertama kami yang sudah berkumpul sudah akan dibagi-bagi lagi secara individu untuk berbaur dengan mereka yang miskin dan tersingkirkan.

Kami tidak boleh menyebut identitas kami, juga kami tidak boleh menyebutkan asal asli kami. Kami harus seolah-olah berasal dari kaum mereka sekalipun itu tidak mudah.

Tujuan dari gelandang rohani ini tentu agar kita merasa menjadi orang yang ‘ditolak’ dan ‘disingkirkan’, kemudian mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya pelindung dan harapan.

Tapi tampaknya malam itu, Tuhan tak sedang ingin berjalan bersama kami. Aku terbagi ke dalam kelompok beranggotakan Dion, Aris, Bhaskoro, dan Candra.

Kebetulan kelompok kami berisikan lima orang termacho yang pernah ada di asrama. Sebut saja Dion adalah seorang kapten sepak bola yang selalu memenangkan timnya saat event olahraga tahunan.

Aris dan Bhaskoro, pasangan ganda bulu tangkis yang tak pernah terkalahkan. Dion, seorang mantan atlet kapuera yang hobi salto dan baik hati mengajarkan ilmunya pada adik-adik kelas dan kakak-kakak kelas yang pingin berlatih kapuera.

Aku sendiri? Aku adalah juara scrabble yang belum pernah terkalahkan selama ini! Otakku begitu macho sehingga tak ada yang mampu mengalahkan taktik dan kekayaan kosakataku.

Kalau kalian mengira ini scrabble biasa dengan bahasa Inggris kalian salah besar! Ini adalah scrabble khusus dengan bahasa Latin!

Siapapun yang mendengarkan namaku saat berhadapan denganku akan berkeringat dingin karena sudah merasa tidak mampu menandingiku.

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/31