Published: April 24, 2025
151
307
2.4k

Antara Cinta dan Tanah Air: Dilema Hati Maria untuk Sjahrir Sutan Sjahrir, salah satu tokoh pegerakan Indonesia yang mengenyam pendidikan di Eropa memiliki sebuah kisah cinta yang unik. Kisah Sjahrir layaknya sebuah cerita roman tentang cinta buta hingga tragedi yang membuat keduanya terpisah jauh. Dia lah Maria Duchateau, seorang perempuan asal Belanda yang tak sengaja ditemui Sjahrir di negeri kincir angin saat mengenyam studi pada tahun 1931.

Image in tweet by Sepi Berbisik šŸŒ™

Di dalam bukuĀ ā€œSjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesiaā€, Maria dituliskan sebagai istri dari tokoh Sosialis Belanda, Sol Tas yang memiliki dua orang anak. Sol Tas juga merupakan salah satu teman Sjahrir dalam berdiskusi di Belanda. Hubungan asmara antara Sjahrir dengan Maria terjalin di saat pernikahannya dengan Sol Tas renggang. Maria juga tidak lagi tinggal satu rumah dengan suaminya itu.

Namun, di bulan November 1931, Sjahrir memutuskan kembali ke tanah air untuk bergabung dengan kelompok pergerakan di Indonesia dan mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) Baru bersama Bung Hatta. Hubungan antara Sjahrir dan Maria terus dilakukan meski keduanya terpisahkan jarak. Surat menjadi satu-satunya cara mereka memadu kasih di tengah era penjajahan Belanda di Indonesia saat itu.

Image in tweet by Sepi Berbisik šŸŒ™

Empat bulan sesudah Sjahrir meninggalkan Belanda, Maria bersama kedua anaknya bertolak ke Indonesia untuk menyusul pria kelahiran Padang Panjang, 5 Maret 1909 itu. Tak sabar menunggu perempuan yang dicintainya, Sjahrir pun menyusul dari Batavia ke Medan, tempat berlabuhnya kapal yang dinaiki Maria dan kedua anaknya. Keduanya kemudian memutuskan menikah tak lama setelah itu, tepatnya pada 10 April 1932 di sebuah masjid di Medan. ā€œMaria masuk Islam di Medan, dan dia menikah dengan Sjahrir secara Islam, bukan Kristen,ā€ tulis Rudolf Mrazek dalam Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Mereka pun tinggal di sebuah rumah di kota Medan, berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Kesawen, ataupun sekedar berjalan santai bergandengan tangan mesra di Grand Hotel yang disebut terlarang bagi pribumi.

Image in tweet by Sepi Berbisik šŸŒ™

Maria dipulangkan ke Belanda Pernikahan dua ras yang berbeda itu menjadi perhatian mencolok. Dengan cepat, berita soal Sjahrir bersama Maria tersiar ke kalangan masyarakat Belanda hingga penduduk pribumi.Ā  Surat kabar setempat bahkan memuat artikel untuk mendesak pemerintah bertindak terhadap Sjahrir dan istrinya. Maria pun pernah dihentikan di tengah jalan oleh orang kulit putih lain yang bertanya apakah dia butuh bantuan.Ā  Surat kabarĀ De Sumatra PostĀ mengangkat berita utama soal pasangan eksentrik ini dengan judul ā€œWanita memakai sarung dan kebaya, di bawah pegawasan polisiā€ pada 13 Mei 1932.

Image in tweet by Sepi Berbisik šŸŒ™

Dengan semakin maraknya pemberitaan Sjahrir dan Maria, kabar pun dengan cepat tersiar bahwa Maria belum resmi bercerai dari suami sebelumnya, Sol Tas yang ada di Belanda. Sehingga, pernikahan Sjahrir dengan Maria dianggap tidak berlaku oleh pejabat Islam, hanya berselang satu bulan pasca pernikahan mereka. Para pemuka agama setempat pun bereaksi keras karena Maria menikah secara Islam dalam status belum bercerai. Mereka memutuskan untuk membatalkan pernikahan Sjahrir dan Maria pada 5 Mei 1932 atau lima pekan setelah akad. Pemerintah kolonial kemudian memulangkan paksa Maria ke Belanda. ā€œPernikahan itu hanya sebentar saja. Orang-orang Belanda kolonial tahun 1930-an tidak senang melihat inlander Sjahrir kawin dengan wanita bule. Maria dipaksa balik ke Negeri Belanda,ā€ tuis Rosihan Anwar dalam Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan 1909–1966.

Atas keputusan itu, pejabat Belanda memulangkan Maria kembali ke kampung halamannya dengan menggunakan kapal. Peristiwa ini juga dijadikan peringatan dari pemerintah Belanda kepada aktivits PNI. Setelah dipulangkan ke Belanda, Maria terus mencari akal untuk bisa kembali bertemu sang suami. Dia bersurat kepada Ratu Belanda untuk bisa membawa kembali Sjahrir untuk melanjutkan studi di Belanda, namun permintaan itu ditolak.

Yang membuat Sjahrir sedih, Maria tengah mengandung anaknya yang kemudian meninggal tiga minggu setelah lahir. Upaya mereka untuk bersatu terhalang penolakan pemerintah Belanda. Mereka pun berhubungan lewat surat-menyurat.

Maria terus berkirim surat, kali ini alasannya ingin kembali ke Indonesia untuk bertemu dengan suami, namun permintaan itu tak pernah dijawab oleh sang ratu. Hingga pada tahun 1934, pemerintah Belanda meringkus puluhan anggota PNI, tak terkecuali Bung Hatta dan Sjahrir.Ā  Sjahrir ditangkap hanya saat hendak bertolak ke Belanda menyusul perempuan yang begitu dicintainya. Sebuah tiket kapal SS Aramis sudah dipesannya jauh-jauh hari, namun percuma saja.

Pemerintah kolonial Belanda menangkap dan membuang Sjahrir dan Hatta ke Digul, Papua, kemudian ke Banda Neira, Maluku. Pada 6 Maret 1936, Sjahrir mengajukan permintaan kepada pejabat Belanda setempat untuk memperbolehkan Maria dan anak-anaknya bergabung dengannya di Banda Neira. Permintaan itu ditolak, dengan alasan bahwa Maria bukan istri Sjahrir. Sjahrir pun menikahi Maria melalui wali pelukis Salim di catatan sipil di Haarlem pada 2 September 1936. ā€œDua minggu kemudian, kini resmi sebagai suami istri, mereka mengulangi permintaan mereka untuk bergabung. Kembali ditolak, dan pemberitahuan resmi diterima Sjahrir pada akhir 1937,ā€ tulis Mrazak.

Surat cinta untuk Maria Setelah empat bulan di penjara Cipinang, kontak Sjahrir dengan dunia luar terputus. Satu-satunya kontak yang dilakukan Sjahrir hanyalah surat yang secara rutin satu bulan lima kali dia kirimkan untuk Maria. Sjahrir dikenal orang yang tidak tahan akan kesendirian. Maka dari itu, berkirim surat kepada orang yang dikasihinya menjadi satu-satunya cara Sjahrir terselamat dari depresi kesendirian. Apa pun diceritakan Sjahrir kepada Maria dalam bahasa Belanda mulai dari ukuran sel tahanannya hingga makanan di penjara.

ā€œMakin lama aku makin banyak melupakan apakah selera dan perangsang itu. Aku kini menganggap makan sebagai kewajiban, dan dengan demikian rasa kenyang beralih dari makan ke arah yang dimakan, kira-kira cara yang sama dengan orang yang merasa puas menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kepuasan rohani dari jiwa lebih banyak daripada kepuasan hawa nafsu perut jadi kepuasan dengan spiritualital ā€˜yang lebih tinggi’. Kamu dapat melihat apa yang ditekan jika makan memakai semangkok dari kalengā€- tulis Sjahrir dalam suratnya untuk Maria.

Kisah perjalanan mereka menuju Boven Digul yang saat itu ditakuti karena wabah malaria yang mematikan pun diceritakan Sjahrir kepada Maria dengan pandangan lebih optimis. Dia juga menceritakan buku-buku bacaanya selama menjadi tahanan yakni kitab Injil, novel, sama sekali tidak ada mengenai politik.Ā  Dia pun bercerita soal interaksinya dengan ā€œorang buanganā€ di Digoel yang tidak terpelajar. Selama di sana, tingkah laku Sjahrir cukup aneh. Sjahrir lebih senang berkelana melalui perahu kano menyusuri Sungai Digoel, berenang, hingga bermain bola. Sjahrir pun dikenal sebagai ā€œpengelana jenakaā€.

Selama berada di pengasingan, Sjahrir seolah melepaskan diri dari dunia politik. Hal ini berbeda dengan rekannya, Bung Hatta yang masih aktif mengirimkan tulisan-tulisannya ke surat kabar. Setelah ditelusuri, ternyata Sjahrir membuat kesepakatan dengan pemerintah Belanda untuk tidak menuliskan atau pun terlibat dalam pergerakan politik apa pun. Dengan membuat kesepakatan itu, Sjahrir mendapat tambahan uang dari Belanda untuk biaya korespondensi dengan Maria dari yang semula 2,6 gulden menjadi 7,5 gulden. Bagi Sjahrir, Maria adalah penyemangat hidupnya. Tidak pernah dia, semenjak ibunya Rabiah meninggal, begitu sungguh-sungguh berbicara dengan wanita.

Pada akhir 1939, ketika Maria sudah punya uang untuk pergi menemui Sjahrir di Banda Neria, tidak ada lagi kapal yang menuju Hindia Belanda karena Perang Dunia II telah berkobar. Sjahrir dan Hatta kembali ke Jawa pada 1942. Sjahrir bergerak di bawah tanah selama pendudukan Jepang.Ā Setelah Indonesia merdeka, dia terpilih menjadi perdana menteri pertama. Akhirnya, setelah 15 tahun berpisah, Sjahrir bertemu dengan Maria dalam sebuah acara di New Delhi, India, pada April 1947.Ā Tuan rumah Jawaharlal Nehru yang mengundang Maria untuk memberi kejutan kepada Sjahrir. Nehru tak tahu kalau kawannya itu sudah menjalin kasih dengan sekretarisnya, Siti Wahjunah Saleh, yang biasa disapa Poppy. Sjahrir menikahi Poppy pada 1951 di Kairo, Mesir. Sjahrir merangkul Maria dan menempelkan pipinya. Pertemuan sekaligus perpisahan. Keduanya memutuskan bercerai pada 12 Agustus 1948. Maria kemudian menikah dengan adik Sjahrir, Soetan Sjahsyam.

Image in tweet by Sepi Berbisik šŸŒ™

Ketika Perang Dunia II meletus, Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman sehingga seluruh korespondensi terputus. Mulai dari 1931-1940, Maria menerima 287 surat dengan panjang antara 4-7 halaman dari Sjahrir. Dia sempat berpikir untuk membakarnya namun Maria dibantu suaminya yang jug adik Sjahrir, Sutan Sjahsyam memutuskan membukukannya dengan judulĀ Indonesische Overpeinzingen, diterbitkan di Amsterdam pada 1945 di bawah nama samaran Sjahrazad.Ā  Sumber : Historia NationalGeographic

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/16