Gimana rasanya saat kamu tahu jika kamu DIADOPSI cuma buat jadi TUMBAL, untuk kesembuhan saudaramu?! “JALAN PULANG” A Thread #CeritaSerem #bacahoror
“Dunia lucu, ya? Aku mati-matian cari cara buat sembuhin adik angkatku, eh, ternyata memang sejak awal aku perlu mati biar dia sembuh.” Wah, berat! Kami bingung menanggapi Lia, saat dia cerita soal perkara yang dia alami, “Diangkat jadi anak, tapi ternyata buat ditumbalin”
kebayang kan dheg-nya? Bahkan, saat kami nulis pun, masih sering merinding, gak nyangka ini masih terjadi di masa sekarang.
Disclaimer: Thread ini menggunakan POV orang pertama (narsum) yang sudah kami sesuaikan agar lebih nyaman dibaca, beberapa hal yang sensitif telah kami samarkan untuk menjaga privasi narsum. Bila kamu ada masukan untuk Lia (narsum) atas apa yang ia alami, sila reply saja di
Halo semuanya, kenalin, aku Lia. Aku ini anak adopsi. Dan seumur hidup, aku sibuk balas budi ke keluarga yang menampungku.
Mereka keluarga sederhana, tapi hidupnya berkecukupan. Segala yang mereka punya sudah sangat cukup membuatku betah di sana. Sejak pertama kali ayah angkatku tiba di panti asuhan, aku sudah menyayanginya. Dia sempurna. Ayah memberikan segala hal yang ga aku dapat selama di panti.
Dia memberikan ku cita-cita, impian, tujuan hidup. Meski, pada akhirnya aku harus nerima fakta pahit, di balik semua kebaikan itu Sejak pertama aku masuk ke keluarga ini, mataku langsung tertuju pada adik pertamaku, Arum. Umurnya waktu itu masih 8 tahunan, beda 9 tahun denganku.
Tapi, ada yang aneh dari tatapan Arum. Untuk anak umur segitu, tatapan mata Arum terlalu… dewasa. Trauma, derita, dendam, semua itu ada di matanya, seakan ga cocok untuk usia anak yang harusnya masih polos-polosnya.
Aku masih ingat, waktu itu kami sekeluarga mau masak-masak karena akan ada keluarga lain yang bertamu. Tapi pagi itu, ayam yang dibeli sama ibu tiba-tiba gak ada, sempat kita berpikir ketinggalan, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, arum berjongkok di teras belakang
Ah, ya, keluarga ini tadinya terdiri dari empat orang. Selain Ayah & Arum, aku juga punya adik laki-laki, dan tentunya Ibu yang sangat baik. Ibu menerimaku dengan terbuka, dan berkata, “Semoga teteh bisa jadi temannya Kakak (Arum), ya! Jadi, dia ga kesepian, ga bicara sendiri
Hah? Arum kenapa? Aku refleks menanyakan itu kepada Ibu dan Ayah. Namun, mereka hanya menatapku dengan raut yang sedih. Aku ga bisa deskripsiin, tapi… mereka sangat terbebani. Aku jadi ga enak untuk nanya lebih lanjut.
Hingga, semakin lama aku hidup bareng mereka, aku pun makin paham apa beban yang Ibu dan Ayah tanggung selama ini. Ada jiwa lain dalam tubuh Arum, kata mereka. Dan benar, aku sering melihat Arum berubah jadi orang lain. Waktu itu aku berpikir, dia mungkin kena semacam gangguan
Anak sekecil itu, yang seumur hidupnya tak pernah keluar Bandung, tiba-tiba lancar ngomong bahasa Jawa “KOWE KUDU BAYAR, TINI!” Arum sering mengutuk ibu, mengancam, bahkan melakukan percobaan pembunuhan pada adiknya berkali-kali. Arum seakan memang punya dendam pada Ibu….
Pernah satu malam, aku terbangun oleh suara tangisan adik laki-lakiku yang masih sangat kecil, ternyata Arum menginjak wajahnya dengan kuat. Aku kaget bukan kepalang! Aku teriak dan berlari menarik Arum.
Tapi, aku sadar, yang aku peluk bukanlah Arum, tapi sosok lain. Dia tampak lebih tua, dengan lidah menjulur yang licin oleh ludah bercampur darah. Aku refleks mendorong Arum, langsung menutup mata berharap semuanya halusinasiku saja…
Dan benar, saat ibu dan ayah datang, sosok di depanku kembali menjadi Arum…. Arum yang menangis kesakitan, karena kepalanya berdarah, terbentur tembok Aku meragukan kewarasanku sendiri waktu itu…
Hingga, Ayah bercerita, bahwa Arum memang spesial. Tapi, ayah tak pernah bisa menjelaskan dengan lengkap. Selalu saja ada hal yang dia tutupi. Yang kini aku tahu itu apa.
Dulu, ayah hanya memberiku harapan demi harapan, Kebahagiaan demi kebahagiaan, hingga aku benar-benar ingin menyembuhkan Arum Aku berkuliah sampai S2 di jurusan Psikologi, semuanya hanya demi membuka kemungkinan untuk adikku sembuh
Aku mencari tahu segalanya Aku menganalisis semua kasus yang kukira serupa dengan Arum Soalnya aku tahu, di balik tubuh yang kadang berubah seram itu, masih ada adikku, yang kesepian dan meminta untuk diselamatkan
Ayah juga sudah percayakan Arum padaku. Ya, aku pikir inilah caraku untuk balas budi pada ayah dan ibu… Tapi, sayangnya, aku ga bisa lagi nunjukkin balas budi itu kepada Ayah, Karena di pertengahan kuliahku, dia meninggal, bunuh diri Aku tersentak, sempat hilang semangat waktu
Sampai, ibu juga ngasih tahu kalau ayah menyerah, setelah berjuang sendiri menyembuhkan Arum. Dia pergi dari dukun ke dukun, dokter ke dokter, dan semuanya ga ada hasil. Dan ibu bilang, dia menusukkan pisau ke lehernya di hari ulang tahun Arum. Tepat saat Arum berusia 12 tahun.
Arum ulang tahun 4 tahun sekali. Betul, dia lahir di tanggal 29 Februari…. Ternyata, itu juga yang jadi kutukan baginya. Tapi, kala itu aku sudah ga percaya mitos lagi. Aku bertekad sembuhin Arum pakai metode psikologis. Setelah lulus S2 dan mulai bekerja, Arum ada dalam
Aku sudah cari tahu penyakit Arum sejak awal kuliah, tapi, sampai sekarang pun, ga pernah ada diagnosis yang tepat! Kalian tahu? Semua metode tes sudah aku coba, tapi semuanya mengarah ke penyakit yang berbeda-beda… Hasil tes paling jujur hanya aku dapat dari Arum, ketika dia
Pada akhirnya, aku hanya bisa merujuknya ke teman psikiaterku. Setidaknya, Arum bisa mendapat obat untuk mengurangi depresinya… Tapi, yang sulit adalah… cara berbohong pada Ibu. Cara yakinin Ibu, kalau aku bisa sembuhin dia! Cara biar Ibu ga khawatir & putus asa seperti ayah!
Tapi aku terlalu naif, sih… Toh, semua yang kusembunyikan, akhirnya ibu tahu juga Kondisi Arum makin parah, dia lebih sering kesurupan, bahkan sampai menyakiti teman-temannya di kelas!
Puncaknya pas Arum SMA, dia benar-benar dikeluarkan dari sekolah dan diminta berobat dulu sampai sembuh.
Saat itu, aku masih kekeh untuk sembuhin Arum dengan obat, dan terapi dari teman-temanku yang psikiater. Meskipun, mereka sama bingungnya denganku. Perihal penyakit Arum yang ga bisa terdiagnosis.
Kami selalu bingung soal keadaan pikiran Arum saat ia dikuasai sosok yang ternyata bernama Marsinah itu. Bukannya aku ga mau tanya langsung ke Arum, Tapi, setiap aku tanya Arum setelah kesurupan, jawabannya selalu sama.
Semua dimulai dari rasa takut yang tiba-tiba muncul. Dan ketika takut itu menjalar serta ketika kekacauan sudah tercipta, punggungnya tiba-tiba perih, dan selalu berdarah. Hal ini yang belum kutemukan alasannya secara medis atau psikologis.
Belum lagi soal gangguan-gangguan mistis yang cuma dirasakan Arum, yang lama-lama semakin nyata. Arum pernah menolak keluar kamarnya seharian karena takut. Dia cuma meringkuk, matanya ngelirik ke sana ke mari, was-was.
Setiap ditanya, Arum selalu nunjuk ke sudut kamar. Katanya, ada sosok nenek-nenek yang bisikin dia, lidahnya panjang, penuh lendir. “KAMU DAN KELUARGAMU AKAN MATI!” gitu katanya. Jadi, setiap Arum mau lakuin sesuatu, pasti dibisikin kalo Arum bisa aja mati atau bunuh

