Published: August 7, 2025
14
95
313

AKU ADALAH HIDANGAN MEREKA Kupikir kanibalisme hanya mitos suku primitif. Ternyata aku Salah. Ada yang lebih mengerikan dari sekedar memuaskan lapar... ritual. Dan yang paling tak kuduga, kepercayaan kelam itu tumbuh di keluargaku sendiri. #bacahorror @IDN_Horor @bagihorror

Image in tweet by Bacahorror

Om Faris adalah kerabat almarhum ayahku, orang terkaya di antara tujuh bersaudara. Ia dikenal dermawan, selalu menjadi andalan keluarga. Sejak ayah tiada, Om Faris lah yang membantu membiayai hidupku dan ibu.

Namaku Putri. Saat kejadian ini terjadi, aku baru lulus SMA. Om Faris menawarkanku tinggal bersamanya di kota. Ia berjanji membiayai kuliahku hingga aku bisa mandiri. Ibu sempat ragu, tapi akhirnya merestui meski itu berarti ia harus hidup sendiri.

Aku tiba di rumah besar Om Faris dengan kekaguman. Rumah itu seperti istana tapi entah kenapa terasa dingin. Bukan dari suhu, tapi dari sesuatu yang lain. Sesuatu yang diam-diam mengawasi.

Aku sudah mengenal Bude Indri, istri pertama Om Faris, serta kedua anak mereka: Fira dan Gita. Tapi satu orang asing bagiku, Namanya Mbak Rukmi. "Dia istri kedua Om Faris," kata Bude singkat. Aku diminta memanggilnya Mbak, meski wajahnya lebih tua.

Ia pucat, hampir seperti mayat. Perutnya membuncit seperti sedang mengandung. Tapi tatapannya kosong. Suaranya nyaris tak terdengar. Ia seperti bayangan yang tak diinginkan di rumah ini.

Meski begitu, aku tetap bersyukur. Aku diterima seperti keluarga. Tapi rumah ini punya aturan—aturan yang tak boleh dilanggar, kata Bude, apa pun yang terjadi.

Pertama, Jangan pernah turun ke dapur setelah jam 9 malam Dapur akan terkunci tepat pukul 21.00. Jika kau mencium bau daging terbakar, atau mendengar suara pisau beradu talenan... abaikan. Hidangan Itu bukan untukmu.

Kedua, hormati Mbak Rukmi Jangan tanya soal kehamilannya. Jika kau melihatnya menangis di lorong, memeluk perutnya sambil berbisik, jangan dekati. Jangan ganggu, jangan tanya apa-apa.

Ketiga, jangan pernah masuk ke garasi lama Ruangan kecil di samping ruang tamu itu bukan gudang. Jika ada anggota keluarga membawa bungkusan ke sana di malam hari, pura-puralah tak melihat. Jika dari celah pintu tercium bau anyir dan asap dupa, segera kembali ke kamar.

Terakhir, Jangan lihat ke cermin lorong saat tengah malam. Cermin panjang di lantai dua tampak biasa di siang hari. Tapi jika kau lewat antara pukul 00.00–01.00, jangan lihat pantulanmu.

Jika tanpa sengaja kau melihatnya tersenyum lebih dulu darimu... Tutup mata dan ucapkan pelan: “Aku belum siap.”

Sebagai tamu, tentu saja aku menurut. Tapi rasa ingin tahuku terus mengusik. Terutama soal Mbak Rukmi. Ia semakin terlihat murung. Kadang kulihat ia berdiri diam di lorong, memeluk perutnya erat-erat sambil berbisik lirih,

seolah janin di dalamnya bukan bayi... tapi sesuatu yang lain. Waktu berlalu. Aku hampir melupakan semua keanehan, hingga malam itu terjadi.

Aku pulang terlambat karena kerja kelompok. Waktu menunjukkan pukul 22.30 saat aku tiba di rumah. Lampu-lampu telah padam. Semua orang tampaknya sudah tidur. Perutku keroncongan. Tanpa pikir panjang, aku berjalan menuju dapur. Tapi sebelum sampai, aku mendengar sesuatu.

Dari balik pintu dapur tertutup, terdengar gumaman aneh, seperti doa dalam bahasa yang tak kukenal. Lalu... Srttt... srttt... Suara pisau mengiris. Ceklak! Suara talenan. Desis minyak panas. Aroma daging terbakar menusuk hidung.

Tapi... itu bukan daging sapi. Ada bau amis... seperti darah segar. Bukan daging hewan. Jantungku berdegup kencang. Aturan pertama langsung terngiang di kepalaku. Tiba-tiba... Krekkk. Gagang pintu dapur bergerak.

Aku terkesiap, langkah mundur perlahan. Nafasku tercekat. Bayangan seseorang tampak samar di balik kaca buram pintu dapur seperti mengenakan celemek... dan wajah yang... tersenyum. Aku lari.

Hampir tersandung di tangga. Begitu masuk kamar, aku kunci pintu rapat-rapat dan menahan napas, tubuh gemetar.

“Mereka hanya sedang memasak... mungkin untuk pegawai?” bisikku meyakinkan diri. Tapi perasaanku berkata lain. Bau itu... gumaman itu... itu bukan masakan biasa. ***

Setelah kejadian malam itu di dapur, aku tak melihat Mbak Rukmi selama beberapa hari. Saat akhirnya ia muncul kembali, sesuatu tampak berbeda. Perutnya tak lagi buncit. Wajahnya lebih pucat dari biasanya, tubuhnya kurus, & sorot matanya… kosong dan putus asa. Aku tak tahan lagi.

Saat kulihat ia duduk sendirian di taman belakang, memegangi perutnya seperti meratapi sesuatu yang hilang, aku memberanikan diri mendekat. “Mbak Rukmi...” Ia tersentak. Tatapannya kosong, lalu buru-buru hendak berdiri menjauh, tapi aku menahan tangannya.

“Mbak… janin di perut Mbak... ke mana?” “Mbak ini istrinya Om Faris, kan? Berarti budeku juga...” Ia menatapku lemah. Matanya mulai berkaca. Tapi bukan karena haru—melainkan takut. “Bukan... bukan istri,” bisiknya. “Aku... tumbal.” Tubuhku langsung membeku.

Dengan tangan gemetar, ia menarik kerah bajunya dan menunjukkan luka gores di belakang leher. Guratannya membentuk simbol aneh,seperti penanda kepemilikan. Kami pindah ke bangunan kecil di belakang rumah, tempat yang lebih tersembunyi.

Darah dagingnya, anak-anak dari Om Faris sendiri dan Mbak Rukmi dimasak dan dimakan dalam ritual keluarga. Malam itu, saat aku mencium bau daging terbakar dan mendengar suara gumaman, itulah saat janin terakhirnya dimasak.

Dan saat itu pula, rahim Mbak Rukmi rusak. Ia tak bisa mengandung lagi. “Aku pikir itu berarti aku akan bebas...” katanya. “Tapi tidak. Jika ternak tak bisa beranak... ia akan disembelih.”

Mataku panas, tubuhku bergetar. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa orang-orang yang terlihat begitu baik… melakukan ini? “Aku pernah coba kabur, Putri. Tapi entah kenapa, tubuhku kembali sendiri ke kamar. Seperti ada yang menarikku pulang… tanpa bisa kulawan.”

Ia menggenggam tanganku erat. “Putri boleh nggak percaya. Tapi kalau kamu masih ragu... tunggu saja. Datanglah ke garasi lama jam 12 malam. Itu akan jadi terakhir kalinya kamu melihatku.” Hari-hari setelah itu terasa seperti mimpi buruk.

Semua keanehan yang dulu terasa samar kini tampak jelas. Aroma dupa yang muncul di waktu-waktu ganjil, suara langkah tengah malam, suara air mengalir dari kamar mandi yang tak dinyalakan siapa pun. Sebelum malam yang dimaksud tiba, aku... nekat melanggar salah satu aturan.

Aku berdiri di depan cermin lorong lantai dua, tepat pukul tengah malam. Pantulan diriku tersenyum lebih dulu... dan di belakangku, ada empat orang berdiri sambil memegang pisau. Aku langsung menutup mata dan berbisik: “Aku belum siap...”

Saat membuka mata lagi, bayangan itu menghilang. Aku tak bisa lagi menyangkal. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang sangat jahat di rumah ini. Malam itu juga aku mulai mengemas barang-barangku. Tapi aku harus tahu… harus melihat sendiri apa yang akan terjadi di garasi.

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/31