RIMBO LARANGAN PART 5 Sebuah bangunan terbengkalai berisi mayat mayat misterius ditemukan di tengah hutan belantara. Namun, tidak hanya mayat, di dalamnya juga bersemayam sosok yang tidak seharusnya diusik keberadaannya.. sebuah utas #bacahorror #malamjumat #IDNhorror
Part sebelumnya bisa dibaca dahulu pada index di bawah : P1 https://x.com/mwv_mystic/statu... P2 https://x.com/mwv_mystic/statu... P3 https://x.com/mwv_mystic/statu... P4 https://x.com/mwv_mystic/statu...
Utas akan kita mulai jam 20.30 WIB malam ini. Please support mwv agar lebih banyak yang baca cerita ini dgn quote retweet, retweet dan like sampul part 5 di atas yaa. Terima kasih sebelumnya.
PART 5 “Sialan...” Dhika refleks menyebutkan kata itu saat matanya menyadari perubahan pemandangan di hadapannya. Semua hal melegakan yang ia lihat tadi seketika sirna bersamaan dengan hilangnya cahaya kilat dan disusul dengan hujan yang cukup deras.
Dhika membenamkan wajah pada kedua telapak tangannya lalu meraung sekeras kerasnya. Harapan yang tadi sempat meninggi kini lenyap dan berganti dengan rasa panik sekaligus tidak percaya dengan apa yang matanya sendiri lihat.
Ia tidak menyangka, alih alih mendekat dengan arah jalan keluar dari hutan, ia justru semakin masuk ke dalam hutan di sisi tebing kapur. Namun Dhika menyadari satu hal. Bangunan terbengkalai di hadapannya sekarang ini terlihat berbeda dari yang ia lihat menggunakan drone-
-bersama Jonan. Bentuk bangunannya persis sama, bangunan sederhana dengan atap seng yang berkarat serta beberapa bagiannya sudah rapuh akibat cuaca, namun pintu bangunan ini masih terpasang utuh, bukan seperti bangunan yang ada di timur dengan pintu yang sudah tanggal sehingga-
-dronenya dapat masuk dan menjelajah. Dhika berjalan perlahan mendekat bangunan itu. Sekali lagi ia mencoba memastikan bahwa bangunan itu memang berbeda. Ia melihat lebih detail lagi bangunan itu dari berbagai sisi.
Ia menyadari juga perbedaan antara bangunan ini dengan yang ia lihat kemarin terletak pada jendela kaca yang kamar yang menghadap sisi luar. Kaca buram itu ditutup dengan palang kayu yang dipaku, bukan pecah seperti yang ia lihat dari drone.
Selain itu ada banyak bercak tangan dari noda noda tanah yang membekas di sekeliling dinding bagian luarnya. Dhika berdiri di depan pintu bangunan itu. Meski terasa aneh, ia mencoba mengetuknya perlahan.
Melihat kondisi rumah yang tertutup seperti itu, menurut Dhika, bukan tidak mungkin ada orang yang tinggal di dalamnya. “Tok.. tok..” Dhika mengetuk dengan tempo pelan. “A..apa di dalam ada orang?...” panggil Dhika, meski dengan ragu.
Suaranya ia naikkan sedikit agar tidak kalah dari suara hujan yang mengguyur saat itu. Namun sayang, tidak ada jawaban dari dalam. Dhika mencoba usaha lain, ia coba mendorong pintu itu dan berharap pintu itu lapuk seperti banguanan yang ia lihat melalui dronenya.
Tapi lagi lagi usahanya gagal. Pintu itu tertutup rapat dan sepertinya terkunci. Dhika menghela nafasnya. Ia tidak tau apa yang ada di dalam, namun setidaknya ia harap ia bisa memiliki tempat berteduh dan berlindung saat kondisi sudah jelang malam seperti sekarang, hanya itu-
-lalu dia akan menjelajah lagi besok pagi. Dhika masih belum kehabisan akal. Jika memang di dalam kosong, ia akan masuk melalui cara lain. Ia bergerak ke jendela kaca berpalang kayu tadi dan mencoba mengintip dari sedikit celah yang terbuka.
Namun karena kondisi yang sama sama gelap di dalam dan luar, ia tidak bisa melihat apapun selain sedikit kain kain putih kusam yang tergantung gantung di dalam ruangan layaknya tirai. Ketika Dhika mencoba mengubah sudut pandangnya, tiba tiba saja..
Klek! Pintu depan bangunan itu berbunyi. Lalu seorang pria berumur 50 an tahun, berambut panjang beruban dengan alis mata tegas menyembulkan kepalanya dari sisi pintu untuk mengintip Dhika yang secara kebetulan juga refleks juga melihat balik ke arahnya.
“Pak! Boleh saya..” ucap Dhika, namun belum selesai kalimat yang Dhika hendak katakan, pria itu langsung kembali bersembunyi dan masuk ke dalam rumah seperti orang panik. Dhika bergegas kembali menuju pintu dan mengetuk ngetuknya dengan lebih kencang.
Mengetahui ada manusia lain di hutan dan di dalam rumah ini membuat harapannya kembali membuncah. Ia punya peluang untuk bisa bertahan hidup.
“Pak! Saya Dhika! Saya tersesat! Boleh saya masuk?” Dhika memohon, ia sadar jam malam akan segera tiba dan entah di jam berapa makhluk makhluk itu akan keluar. “...” namun, tidak ada jawaban dari dalam. Tidak juga gerakan atau suara yg ditimbulkan oleh aktivitas pria tua tadi.
“Pak, saya pekerja tambang di dekat sini, saya tersesat, bisa saya menginap satu malam ini saja? Besok saya akan pergi dari pagi. Hanya malam ini saja” tawar Dhika, berharap dengan itu pria tua tadi melunak.
Dhika menduga, pria tadi hanya tidak ingin kehidupan privasinya terganggu oleh kehadirannya. “....” hening, masih tidak ada jawaban apapun.
“Pak, saya mohon. Ada istri dan calon anak saya menunggu saya pulang di rumah.. saya harus pulang dengan selamat.. saya tersesat di hutan ini ketika cari jalan keluar” rintih Dhika sambil menyandarkan kepalanya ke pintu. Dengan itu, ia rasa suaranya akan lebih terdengar ke dalam.
“....” untuk beberapa saat, pria berambut panjang itu tetap diam. Namun saat Dhika hampir akan kembali mengiba, tiba tiba saja pintu itu terbuka sedikit dan pria tadi mengintip dengan satu matanya dari balik pintu.
Pria itu melihat ke arah Dhika dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Dhika yang masih terengah engah mencoba tersenyum untuk meyakinkan kalau ia adalah orang baik.
“Apa anda orang kiriman dari perusahaan yang akan jemput kami?..” tanya pria itu. Bahasanya terdengar baku dan dari matanya terlihat ia begitu trauma seperti tidak pernah bertemu orang asing.
“Kiriman perusahaan? bukan pak saya pekerja pembuka lahan tambang yang tersesat disini. Saya mau minta tolong, kalau boleh sa..” ujar Dhika. “Kalau bukan, pergilah. Rumah ini sudah penuh!” bentak pria itu lalu kembali menutup pintu dan terdengar menguncinya.
“PAK!.. Saya mohon..” panggil Dhika lagi sambil memukul pintu dengan agak keras. Ia tau rumah ini adalah satu satunya yang bisa ia harapkan. Satu jam lebih Dhika terus menerus mengetuk dan memanggil pria itu agar bersedia membukakan pintu untuknya.
Namun sekeras apapun Dhika mencoba, agaknya pria di dalam itu tidak mengubah pendiriannya untuk tidak menerima Dhika untuk masuk ke dalam.
Disaat yang sama, langit perlahan semakin gelap meskipun hujan sudah mulai mereda. Tetapi gelap itu bukan lagi karena awan hujan yang menutupi matahari dengan kelamnya, namun memang sang surya memulai waktu istirahatnya..
Membiarkan kegelapan itu merambat di setiap sudut langit. Mengembalikan semua yang ada di dalam bayang bayang pepohonan itu kembali menjadi rahasia. Malam, akhirnya tiba..
Di mess pekerja.. Semua orang beraktivitas dengan setengah hati dan tanpa semangat. Bahkan untuk sekedar makan atau tidur sekalipun, mereka seolah tidak memiliki tenaga. Semua berjalan begitu lambat dan seperti tanpa harapan.
Satu Minggu sebelum janji perusahaan itu akan menjemput mereka rasanya akan seperti setahun penantian. Para pekerja hanya duduk di tempat tempat terpisah tanpa kegiatan yang jelas. Saat itu, tirai kamar Pak Santo tersibak dari dalam dan Dayat muncul dari baliknya.
“Ah iya, rekan rekan yang lain, makanan sudah saya buatkan di belakang, ada telur dan nugget. Kalau ada yang mau, ambil saja, itu buat sama sama” ujar Dayat sambil membawa piring nasi dan lauk keluar dari dalam kamar Pak Santo.
Para pekerja yang tengah berkumpul di ruang tengah itu hanya mengangguk, mereka tidak segera bangkit karena memang sudah kehilangan nafsu makan sejak rentetan hal yang terjadi di mess itu.

