Pada tahun 2003. Di temukan jasad Wanita tergantung di sebuah rumah. Sarma (20) ditemukan dengan kondisi jasad yang sudah membusuk. Diperkirakan wanita itu sudah meninggal selama beberapa waktu. @IDN_Horor @bacahorror
SABDO MAYIT Utas- Pada tahun 2003. Di temukan jasad Wanita tergantung di sebuah rumah. Sarma (20) ditemukan dengan kondisi jasad yang sudah membusuk. Diperkirakan wanita itu sudah meninggal selama beberapa waktu.
Sampai saat berita ini dimuat, pihak kepolisian masih berupaya menggali informasi. Belum bisa dipastikan motif terkait kematian wanita muda tersebut. Rendra menaruh surat kabar yang sudah menguning di atas meja kayu. Bahkan beberapa bagian terlihat kusut hampir terkoyak.
Hampir setahun, ia dihantui rasa bersalah atas kematian Adik semata wayangnya. Bukan Narendra tak mengikhlaskan kepergiannya.
Namun, semua terasa begitu janggal. Bahkan ia masih yakin kalau Sarma mati bukan karena bunuh diri. Melainkan ada unsur kesengajaan yang dibuat oleh seseorang.
Rendra meremas kuat-kuat kertas koran di hadapannya. Rasanya masih tak terima dengan kematian Sarma yang sampai saat ini tak diketahui kebenarannya. Bagaimana mungkin, wanita itu mati dengan kondisi tergantung dengan tangan dan kaki yang terikat.
Rendra menghela nafas. Menenangkan emosi yang sudah hampir meledak tak terkendali. Lalu ia mengambil ponsel lawas peninggalan Bapaknya. Segera Rendra membalas pesan yang sudah ia abaikan selama beberapa hari ini.
“Aku pulang hari ini” Rendra tak menunggu jawaban. Segera ia meraih tas ransel di ujung kasur. Memantapkan hati untuk pulang ke rumah peninggalan orang tuanya. ***** Tak terasa 8 jam berlalu. Kini Rendra sudah berdiri di pekarangan rumah orang tuanya.
Tak ada yang berubah, semua masih sama. Bahkan tanaman mawar kesukaannya tumbuh subur di sisi bangunan. Rendra yakin Pakdhe Jatmiko merawat rumah ini dengan baik.
Namun, terasa ada yang berbeda. Ada gelenyar ngeri, saat melihat rumah itu. Aura mencekam yang tak pernah ia rasakan selama berada di sini.
“Sarma, aku pulang” Seketika, entah ini kebetulan atau memang ada hal aneh. Terasa hembusan angin lembut menerpa tubuhnya. Seolah meminta Rendra untuk bergegas masuk ke dalam rumah.
“Woeee, ngapain kamu” Terdengar suara teriakan dari arah jalan. Sontak Rendra menoleh, melihat Pakdhe Jatmiko berdiri dengan pakaian koko serta sarung. Sepertinya orang tua itu baru pulang dari Surau.
“Woeee, ngapain kamu” Terdengar suara teriakan dari arah jalan. Sontak Rendra menoleh, melihat Pakdhe Jatmiko berdiri dengan pakaian koko serta sarung. Sepertinya orang tua itu baru pulang dari Surau.
Rendra tak menjawab, ia sengaja berdiri diam agar Pakdhe Jatmiko terkejut melihatnya. “Ameh ngopo?” (Mau apa?) tanya Pakdhe menantang. “Masuk rumah” ucap ku singkat.
Sekilas Pakde mencondongkan wajahnya. Mengamati Rendra lekat-lekat, memastikan siapakah pria kekar di depannya. “Rendra! Ya Allah Gusti” ucapnya kaget dan langsung memberikan pelukan kuat.
Rendra terkekeh, membalas pelukan Pakde Jatmiko yang selama ini sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri. “Ngapain kamu waktu surup berdiri di depan rumah. Untung nggak dikira maling. Wes Ayo masuk” pinta Pakde langsung menggiring masuk ke dalam rumah.
Bener seperti dugaan Rendra. Tak ada yang berubah sama sekali. Bahkan rumah ini terawat dengan baik. “Kapan kamu sampai? Kamu itu juga kebangetan. Tidak ada kabar, di telpon tidak diangkat. Di sms juga tidak dibalas. Rendra Rendra. Kebangetan kamu!” gerutunya.
Namun, Rendra juga melihat gelagat aneh. Tampak mata Pakde menelisik bagian tubuhnya. Seolah sedang memastikan sesuatu. “Pakde, aku itu barusan sampai lo. Tidak ditawari minum malah langsung di ceramahi” ucap Rendra pura-pura merajuk.
“Halah ya bikin sendiri, jangan manja. Orang tua kok malah di suruh-suruh. Wes sana masuk kamar, nanti biar Diah bawakan makanan buat kamu. Sek, Pakde pulang sebentar yo! ” Ujarnya.
Rendra hanya tersenyum mengiyakan. Memaklumi, mungkin saja rumah ini tak pernah digunakan memasak seperti saat Sarma masih hidup. Lantas, segera Rendra masuk ke dalam kamar yang setahun ini ditinggalkan. Namun, saat hendak membuka pintu, belum juga kakinya melangkah.
Aroma yang sangat dikenali meyeruak hidungnya begitu kuat. Aroma bunga melati khas yang selalu digunakan oleh Sarma. Rendra memejamkan mata, menggeleng. Pastilah ini imajinasi belaka. Tak mungkin Sarma ada disini, ia sudah meninggal setahun yang lalu.
Lantas Rendra menengok sekilas ke arah kamar Sarma. Kamar dimana ia menemukan tubuh adik perempuannya sudah mulai membusuk. Bergegas ia masuk ke dalam kamar. Langsung saja ia merebahkan tubuhnya, rasanya begitu nyaman setelah seharian berada di dalam bus.
Ingin rasanya Rendra memejamkan mata, meski badannya terasa begitu lengket karena keringat, tapi posisi ini sudah membuatnya terlalu nyaman. Hingga, saat Rendra memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara pintu kamar terbuka dengan pelan.
Spontan Ia membuka mata kembali. Tampak satu bayangan bergerak menjauh. Selain itu Rendra juga mendengar suara senandung lirih dari luar kamar. Sebenarnya ia masih enggan untuk beranjak. Namun, kejadian barusan membuatnya waspada.
Siapakah gerangan? Apa Pakde Jatmiko sudah kembali ke rumah ini? Namun setelah beberapa saat menajamkan telinga. Suara lirih itu lebih mirip suara perempuan ketimbang suara laki-laki. “Diah?” Batin Rendra
Penasaran, segera Rendra beranjak untuk memastikan. Mungkin saja itu Diah. Anak perempuan Pakdhe Jatmiko. Namun, saat Rendra berada di ambang pintu. Tak ada seorang pun, bahkan lampu ruang tengah juga padam.
Hanya secercah cahaya yang berasal dari kamar Sarma. Begitu juga suara senandung yang tadi ia dengar tadi. Seketika hatinya begitu sesak. Siapakah yang berani membuka pintu kamar Sarma?
Padahal dulu ia sudah berpesan kepada Pakde Jatmiko untuk tidak membuka kamar itu apapun yang terjadi. Segera ia melangkahkan kaki ke kamar itu. berniat menegur siapapun yang lancang masuk ke kamar Sarma.
Tanpa aba-aba Rendra membuka pintu kamar dengan keras. Blam... Rendra sudah bersiap untuk menegur siapapun yang ada di dalam kamar itu. Namun, belum sempat kalimat itu keluar. Bibirnya terkunci rapat. Bahkan tubuhnya pun mematung tak bisa digerakkan.
JRendra melihat ada perempuan yang sangat ia kenali, berdiri di depan ambang jendela dengan posisi membelakangi pintu. Rambutnya panjang sepinggang, dengan pakaian sama persis saat terakhir Rendra melihatnya. “Sarma” ucap Rendra serak.
Namun, wanita itu tak menggubris. Ia terus bersenandung lirih. Seolah tak mendengar panggilan Rendra. Ingin rasanya Rendra bergerak ke arah wanita itu. Namun saat satu kakinya melangkah, satu kesadaran muncul. Sarma sudah meninggal…

