Published: August 21, 2025
4
32
108

40 Hari Semenjak kematian pakdhe Marso karena gantung diri, hidupku tak lagi setenang dulu. Cermin-cermin di rumah tertutup kain rapat, semua hening, semua terasa berbeda. @bacahorror #bacahorror

Image in tweet by Cerita horror X

Sudah lewat jam dua pagi saat aku tiba di dusun Cikletakan, tempat di mana pakdhe Marso dulu tinggal. Aku Rafa, satu-satunya keluarga yang tersisa dari pakdhe. Lelah sekali rasanya setelah panjang perjalanan yang ku tempuh dengan menaiki bus kecil tadi, berjalan kaki aku menuju

rumah pakdhe Marso yang letaknya ada di ujung dusun. Rumah peninggalan pakdhe yang… seharusnya sudah diratakan dengan tanah. Pakdhe telah meninggal 5 minggu yang lalu, dia memilih untuk gantung diri di pohon rambutan belakang rumahnya. Caranya meningga memang tidak wajar,

banyak warga bilang semua karena bisikan ghaib yang pakdhe Marso dapatkan. Warga Cliketakan sering juga menyebutnya “boyongan”, artinya rumah dan tanah itu harus dikosongkan, dibiarkan rusak tidak boleh ditinggali oleh siapapun, apa lagi dipugar. Karena katanya…

yang tinggal di sana bukan cuma manusia, namun ada arwah-arwah jahat yang akan mengajak siapapun yang menetap di rumah itu, untuk ikut bergabung dengan mereka. Ya, rumah peninggalan kakeku ini memang terkutuk, ayahku pernah bercerita bahwa dulu kakek melakukan pesugihan dengan

iblis penunggu gunung Slamet, yang membuatnya harus menumbalkan seluruh keturunanya. Terkecuali mereka yang tak sempat ikut menikmati barang setegup air. Karena pakdhe Marso lah yang memilih tetap tinggal, maka dia lah yang akhirnya menjadi tumbal terakhir.

Malam ini tepat 40 hari setelah kematian pakdhe, malam di mana arwah yang sudah meninggal seharusnya benar-benar pergi ke alamnya. Tapi sore tadi, pak lurah menelponku… “Ternyata masih ada suara orang menyapu halaman di rumah pakdhemu, tolong kamu periksa ya.”

Karena aku satu-satunya keluarga pakdhe yang tersisa, dan yang tinggal di luar dusun, jadi aku menurut saja. Rumah pakdhe berdiri di ujung hutan dusun, tak akan ditemui rumah lain dalam jarak 300 meteran. Gelap, tapi anehnya, lampu terasnya menyala. Padahal semenjak kematian

pakdhe, listrik sudah dicabut. Ku langkahkan kaki pelan ke halaman. Ada bau tidak sedap di sana… bukan bangkai binatang, lebih mirip kembang setaman yang membusuk. Di depan pintu, terdapat kendi tanah liat yang retak setengah. Kendi itu bekas dari ritual 7 harian pakdhe.

Harusnya sudah dikubur. Tapi kendi itu utuh. Dan… masih berisi air. Ku panggil pelan, “pakdhe…?” Tak ada jawaban apapun. Tapi pintu… terbuka sendiri. Di dalam rumah, semua perabotan masih pada tempatnya. Sangat bersih. Terdapat tikar tergelar di ruang tengah, dan di atasnya…

nasi tumpeng lengkap. Seperti untuk slametan. Namun nasi itu hitam legam. Seperti tercampur abu gosok. Dari arah dapur terdengar bunyi, tek… tek… tek… mirip suara sendok yang dipukul ke kendi. Berulang. Kakiku gemetar, namun aku tetap melangkah ke arah dapur.

Matanya putih semua. Mulutnya menganga terbuka.:. Tapi yang keluar seperti bukan suaranya. Seperti dua suara dalam satu tubuh. Laki-laki dan perempuan. “Masio dibolehke mlebu, nanging yen durung pamitan, selawase koe ra bakal iso metu kang rene” (meski diperbolehkan masuk,

kalau belum berpamitan, selamanya kamu nggak akan bisa keluar dari sini) tanganya menunjuk ke arah dinding. Ada tulisan pakai arang: “40 DINO OANGGO AKU, SAKWISE KUWI, GILIRANMU.” (40 hari untuku, setelah itu, giliranmu) Lampu padam, rumah menjadi sunyi. Aku lari keluar rumah,

namun halaman telah berubah. Semua pepohonan mengering. Kendi tadi telah pecah, dan dari dalamnya mengalir darah ke tanah. Ku balikan badan. Rumah pakdhe yang tadinya berdiri gagah kini menjadi tanah rata. Yang tersisa hanya pohon rambutan besar. Dan dari atasnya…

tergantung dua mayad. Satu lagi milik pakdhe. Satu lagi… itu, aku. Suara seram itu muncul lagi dari dalam tanah: “Sing nyawang, melu. Sing dienteni, teka.” (Yang melihat, ikut. Yang ditunggu, datang.) aku pingsan. Pagi harinya,

warga menemukanku tergeletak di kuburan belakang rumah. Rumah itu… tidak pernah ditemukan lagi dan entah raib kemana. Hanya pohon rambutan besar, kendi pecah, dan sisa nasi hangus semalam. Pak lurah cuma berkata pelan… “berarti belum pamit. .

Rumah itu masih numpang di antara kita. Tapi kalau sampai 41 hari dia (pakdhemu) belum pergi… berarti arwahnya udah ngajak keluarga yang masih untuk ikut mati.” Seminggu semenjak kejadian itu,

aku tak lagi berani bercemin. Karena di semua kaca yang ku tatap, bayanganku selalu memunggungiku

@ceritaht @bacahorror Seremm 🫣🫣

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/21