Sungguh rumit, salah satu alasan aku gak hire pegawai karena enggak bisa bayar UMK 4,9 juta Surabaya. Di satu sisi, coffee shop estetik yang disuntik modal duit gaib (bisa sampai M) di jalan besar Surabaya, gaji barista range-nya dari Rp1,5-2,5 juta kerja 8 jam.
Karena aku gak hire pegawai, semua kukerjakan sendiri. Mau hire orang marketing? Gak punya duit, kukerjakan sendiri. Mau hire barista? Gak punya duit, kukerjakan sendiri juga. Bagaimana cara agar aku bisa mengoptimalkan semua fungsi bisnis sendirian? Ya gak bisa. Bakal slow.
Ya akhirnya cuma bisa ngerjain semua sendiri dengan segala lackingnya dan segala burnoutnya. Sebenarnya pengen ngajak orang marketing yang mau bagi hasil sama aku dengan hasil yang memang belum begitu banyak di awal ini, tapi sejauh ini berusaha approach belum ada yang mau.
Kapan aku scale up? Kejauhan, penghasilan bersih sekarang aja buatku per bulan belum UMK Surabaya, separuh lebih dikit aja. Kalaupun mau nerima investor, bagaimana cara meyakinkan feasibility business thriving di Surabaya dengan gaji semua pegawai 4,9 juta?
Maka pilihan buatku tiga: 1. Ngelanjutin begini sendiri (pelan-pelan nambah) dengan konfigurasi usaha yang biasa dan pada umumnya 2. Bodo amat dengan prinsip ngegaji orang sesuai UMK 3. Memilih alternatif pengelolaan usaha bagi hasil instead of gaji kayak RM Padang / Koperasi
Pilihanku antara 1 atau 3. Aku ingin 3 tapi aku sungguh kehabisan daya untuk memperluas wawasan blablabla karena hari-hari handle kerjaan sendirian udah capek gyets. Tapi dua pilihan ini jelas: say so loooooong ke scale up kenaikan taraf kehidupan wkwkwk.
Sebenernya kritik terhadap mbak-mbak yang sewa toko di Pasar Santa tuh valid. Aku pun juga melihatnya demikian. Tapi ya ampuun, sulit juga buat ngerasa enggak ada bitterness sama sekali ke orang-orang yang keras banget ke mbak ini tapi ya beli kopi di coffee shop gaji 1,5 juta.
Kayak maksudku jadinya gini, agak shameless promotion juga: Oke kamu enggak pengen usaha kecil kami ini bayar orang di bawah UMK. Kami pun. Tapi kamu konsekuen enggak terhadap prinsip itu dengan pilihan belanjamu? Coffee shop tempat belanjamu, baristanya gaji berapa?
Kaos/fashion lokal yang kamu pakai, sourcingnya penjahitnya digaji atau konveksinya ngegaji penjahitnya berapa? Weirdly, yang lebih mungkin ethical malah bracelet atau charm yang dicustom sendiri karena bahan-bahannya dibuat pabrik Cina yang buruhnya lebih mungkin UMR sana?
Ya ini bisa aja sih dijawab “Ya kan kamu bisa memilih untuk tidak buka usaha” tapi ya mudah aja merespons “kamu juga punya pilihan untuk beli dari pihak yang berusaha secara sendirian ATAU/DAN tidak menggaji buruhnya di bawah UMR”.
Yaaa minusnya kopi yang dibikin oleh owner kafe yang worn out dengan berbagai urusan senditian dengan mesin espresso yang enggak sampai La Marzocco mungkin enggak akan seenak (dan seworthy itu dipamerkan di medsos) seperti kopi-kopi kafe estetik gaji barista 1,5-2 juga itu.
At the end of the day, kalau kamu merasa perlu pemakluman untuk belanja di gerai yang menggaji pegawainya di bawah UMR, mengapa pemakluman itu tidak bisa diperpanjang ke para pelaku usaha yang MEMANG struggle karena mereka hidup dari usaha mereka?
Kalau “two wrongs don’t make a right” kenapa lantas KAMU yang masih melakukan dan mempertahankan dan berpartisipasi dalam kebertahanan ONE WRONG semudah itu memosisikan pihak pengusaha yang melakukan ANOTHER WRONG itu sebagai entitas jahat yang harus entah tanpa pemakluman?
Padahal selalu ada pilihan: 1. Lebih sadar akan restrain kondisi masing-masing 2. Support usaha dengan restrain itu 3. Saling berbagi informasi mencari upaya agar ada konfigurasi distribusi penghasilan lebih baik yang tetap menghidupkan 4. Berkoalisi meninju ke atas
Mantap bang lanjutkan lebih benci orang-orang kayak kami ini daripada konglomerat gede.
@representatif tapi orang Surabaya gk ada yg mempersalahin gk sih mas? paling cuma anak2 twitter aja sm org2 jakarta doang yg masalahin gaji dibawah UMR ini /s
@representatif Kl cm sanggup bayar 2jt knp g hire aja tp jam kerja cm 4jam?
@representatif Kalau sy setengah UMR sih bro. Tp jam kerja juga setengah. 4 jam doang. Kerjaan yg berat kayak ngadon atau bersihin bahan baku. Pokoknya gass poll di 4 jam itu. 😹
@representatif Mungkin egomu terlalu tinggi. Definitely mo bikin bisnis tp ga pake karyawan itu success ratenya kecil, kecuali homemade / by PO (yg semua printilan harus sesuai dgn keinginan si pembuat) Mau kasih opsi nomor 1, tapi kayanya ga akan longlast juga. Harus serving berapa cup cuma u
@representatif respect ambek sampean mas🙌 ya biasalah mas, kadang mereka memang kehalang sudut pandang, jarak pandang, resolusi pandang dan limitasi pandang terhadap situasi di bisnis. jadi output pemikirannya seperti itu
@representatif @gentsemane Kayanya barista semuanya fixed ya salarynya, adek gue gaji nya mentok2 http://3.an tanpa bpjs pula 🥲 padahal udah pada jd PT
@representatif pilihan nomor 2 sebenarnya ok juga kok kak..di awal gaji di bawah UMK gapapa asal kesepakatan 2 pihak..dgn adanya karyawan skala usaha pasti naik krn kamu bisa mikirin marketing..pelan2 naikin gaji karyawan sesuai kenaikan omset..its fair enough menurutku..
@representatif Biasanya kalo dari sisi hitungan bisnis, biaya modal coffeshop paling ribet di nentuin biaya operasionalnya. Mereka kalo mau bisnisnya survive mau ga mau gaji karyawan kecil dan buat hitungan 2x operasional dan BEP cepet hehe
@representatif Sebenernya sulit bagi UMKM apalagi yg baru memulai utk gaji karyawan di atas UMK, apalagi UMK yg tinggi bgt macem surabaya. Ga balik modal, boncos. Pun gaji ART sesuai UMK, karena gajiku sbg dokter di bpjs pun dulu gak sampe UMK. Tapi, kalo g bs gaji UMK, minimal manuasiawi.
@representatif Emangnya omset hariannya brpa, marginnya brpa
@representatif Tp ngene bro, ada 2 bidang besar usaha yg kujalani, IT dan non-IT. Yg IT alhamdulillah selama ini blm pnah masalah bayar pekerja di atas UMK krn memang pasarannya di atas UMK. Nah yg non-IT ini kerasa klo penetapan UMK gak berdasar pertumbuhan dunia usaha. Beberapa kali UMK
@representatif @rayestu Semangat, Mas! Mereka yang ribut soal arrangement upah buat UMKM, semoga mau juga bayar lebih buat layanan/produk yang mereka dapatkan. Kalo cheap bastard dan pengennya apa-apa serba murah pula, ya wassalam 😅
@representatif Lakukan yang terbaik,, sukses dan berkah
@representatif @Outstandjing pake sistem part time aja mas, bayarnya perjam
@representatif @Mr98Hehehehe Kenapa gak coba sistem part time? Kayaknya negara luar pd pake itu buat yg gak bisa UMR deh
@representatif sepurane cak bas lek brisik :( dan akeh sarkas, cuma kadang kacamata pengusaha iki lebih bisa dipahami. dprd yang punya nilai punya pendirian tp durung tau usaha dewe, minimal dodolan risol
@representatif oiya bukannya UMKM dikecualikan dari kewajiban bayar UMR/UMK ya?
@representatif @malikarrahiem Memang rumit
@representatif surabaya itu UMK nya gede, tapi coba tanya ke warlok yang kerja di non pabrik. Apa gaji mereka nyentuh segitu? 2022, masih ketemu orang yg ngegaji 800k, tp dapat mess.
@segopindangg Gills 800k doang.😭
@representatif Semangat.
