ㅤㅤ Sore di Jakarta terasa lebih ringan dari biasanya. Rencana Adam untuk mengantar oleh-oleh ke teman-teman batal setelah tugas itu diambil alih oleh ojol. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia bisa bernapas tanpa tergesa. ㅤㅤ
ㅤㅤ Langit mulai berubah warna menjadi oranye pucat. Angin sore membawa aroma jalanan — campuran debu, gorengan, dan bensin — yang entah kenapa terasa akrab di hidungnya. Adam berdiri di depan pagar rumah Gita, di samping mobil yang tadi sempat dinyalakan. ㅤㅤ
ㅤㅤ Ia menatap matahari yang mulai condong ke barat, sementara dari dalam rumah terdengar samar suara televisi yang sedang ditonton Gita, diselingi tawa kecil, lalu langkah kaki yang mendekat. ㅤㅤ
Begitu bayangan Gita muncul di depan pintu, Adam tersenyum lebar. “Ngedate yuk!” katanya spontan, nada suaranya ringan.
ㅤㅤ “Tadi kan kamu sempat bilang, mobil jadinya cuma dipanasin doang? Nah, daripada sayang mobil udah panas, kamu @aeterveilon juga udah cantik banget dandan... kita jalan aja yuk! Ke mana enaknya? Habis itu nonton.” ㅤㅤ

