Published: October 7, 2025
1
0
0

@aeterveilon ㅤㅤ Setelah makan dan meneguk minuman, Adam mengecek jam. Masih ada sekitar satu jam sebelum film dimulai. Ia mengajak Gita untuk berkemas, pindah ke FX. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ MBloc… anak muda banget, pikir Adam. Tempatnya asik buat nongkrong. Ia baru pertama kali ke sini. Sepanjang jalan ke tempat parkir, langkahnya dibuat sejajar dengan Gita. Selain agar tangan mereka tetap saling menggenggam, ia ingin waktu bersama terasa lebih lama. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Hah… kalau saja tak ada pekerjaan dan tesis, ia ingin mengekori Gita sampai dua juta miliyar tahun cahaya. Yang paling menjengkelkan saat jalan-jalan seperti ini tentu saja urusan pindah parkir. Bukan apa-apa, Adam punya sentimen sendiri terhadap para tukang parkir— ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ mungkin karena pernah kehilangan helm di tempat parkir, tapi tukang parkirnya tak bisa berbuat apa-apa. Ia pun terpaksa pulang menempuh 20 km tanpa helm. Untung tidak kena tilang atau masalah lain di jalan. Menyebalkan. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤ Seperti biasa, Adam membukakan pintu penumpang terlebih dahulu, mempersilahkan @aeterveilon masuk, sebelum akhirnya ia masuk sendiri. Saat menutup pintu, ia menyelipkan satu senyuman dan kesipan kecil, separuh menggoda, separuh ingin momen sederhana itu terasa lebih hangat. ㅤ

@piorbitals ㅤ Gita mengangguk karena mulutnya masih penuh dengan makanan, senyumnya mengembang mengetahui reaksi positif dari Adam tentang makanan mereka malam ini. Gita ikut mengecek jam, baru ingat kalau mereka ada rencana nonton film dari anime favoritnya malam ini. ㅤ

@piorbitals ㅤ Selesai makan, mereka segera kembali ke parkiran. Langkah Gita kecil-kecil, sengaja diperlambat karena mungkin mau hari ini berjalan sedikit lebih lama agar esok tak kunjung datang dan Adam tak harus pulang. Senyum kecilnya kembali hadir saat tahu Adam mengikutinya. ㅤ

@piorbitals ㅤ Setelah duduk cantik di kursi penumpang, dan Adam masuk kedalam kursi pengemudi, mobil segera meluncur kembali ke jalanan, menuju tempat mereka selanjutnya. "Nggak sabar!!" Celetuk Gita, setengah menjerit, mengepalkan tangan dan menggigit bibirnya. ㅤ

@piorbitals ㅤ Ekor matanya kemudian melirik ke arah @piorbitals yang fokus pada setir dan jalanan yang cukup ramai malam hari ini. "Semoga ngga telat ya kita mas." Telapak Gita mendarat di bahu Adam, mengusapnya lembut, kemudian diam disana, menepuk-nepuknya perlahan. ㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Kepalanya miring, sengaja dimiringkan sedikit untuk menjepit tangan Gita yang masih diam di bahunya. Gerakannya pelan, nyaris seperti kucing yang manja—pipinya mengusap lembut punggung tangan sang puan. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ “Ini bentar lagi sampai kok. Deket doang ke FX mah. Kepeleset juga sampe,” ujarnya sambil melirik ke depan, senyum samar di sudut bibirnya. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ “Nah kan, udah kelihatan FX-nya. Masih empat puluh lima menitan lagi sebelum film mulai. Mau fotobox dulu gak? Biar gen Z banget,” tambahnya sambil menoleh sekilas ke arah Gita. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Kalau bukan karena sedang mengemudi, mungkin matanya tak akan lepas dari gadis di sebelahnya itu. Separuh dirinya ingin membawa Gita pulang ke Bandung. Tapi ia tahu, kasihan juga kalau Gita terus ditinggal “Bang Toyib cabang Bandung” untuk kuliah dan kerja. ㅤㅤ

@aeterveilon Mobil perlahan memasuki area parkir. Karena weekday, mereka leluasa memilih spot yang dekat dengan lobby. Setelah memastikan posisi mobil rapi, Adam tak langsung mematikan mesin. Ada jeda kecil—momen di mana ia hanya menatap ke depan, pikirannya penuh oleh gadis di sebelahnya.

@aeterveilon ㅤㅤ Dari sudut matanya, Adam bisa melihat sosok Gita. Cahaya lampu parkir memantul di wajah gadis itu, membentuk garis lembut di sepanjang pipinya. Tangannya yang tadi sempat menggantung di tuas gigi kini diam di paha, tubuhnya terbakar hanya karena jaraknya terlalu dekat. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Ia menarik napas pelan. Kalau saja ia sedikit lebih berani, mungkin sudah sejak tadi ia mencuri satu atau dua ciuman. Mungkin di punggung tangan... Tapi akalnya menahan—ini bukan tempatnya, bukan waktunya. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Rasa ingin dan logika saling beradu di dadanya, menciptakan tegangan yang bahkan bisa ia dengar di detak jantung sendiri. Adam menelan ludahnya, lalu menarik napas pelan. Udara dari AC terasa terlalu dingin, atau mungkin karena tubuhnya yang memanas. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Akhirnya, ia menunduk sedikit, pura-pura mengecek jam di dashboard, sebelum akhirnya memecah keheningan dengan suara yang terdengar lebih berat dari biasanya. “Yuk, turun,” ucapnya. Ia menoeh ke arah @aeterveilon sambil mematikan mesin mobil. ㅤㅤ

@piorbitals ㅤ Gita tidak bergeming, dibiarkan tangannya terjepit diantara pipi dan bahu Adam yang terasa hangat ditengah semburan AC mobil yang cukup dingin malam ini. Baru ia menoleh ke depan ketika Adam memberitahu bahwa mereka sudah dekat. ㅤ

@piorbitals ㅤ "Hahaha, ayo mas!" Mengetahui jika Adam duluan yang inisiatif mengajaknya untuk photobox membuat Gita merasa cukup senang. Jarang sekali pria disampingnya mengajak mereka melakukan aktivitas 'anak muda' begini. ㅤ

@piorbitals ㅤ Mobil sudah terparkir rapi di dekat lobby FX Sudirman, mesin mobil masih menyala, namun tiba-tiba rasanya hening. Adam terlihat berkutat dengan isi kepalanya sendiri, sedang Gita tak bisa melepas pandang dari sang tuan. Jemarinya meremas tas kecil yang ia bawa — ㅤ

@piorbitals ㅤ kepalanya penuh dengan suara degup jantungnya sendiri. Sudah cukup lama ternyata sejak terakhir mereka menghabiskan waktu berdua, apalagi dengan jarak sedekat ini. Dan batasan antara canggung, malu, dan ingin merapatkan tubuhnya kepada Adam terus menerus menipis. ㅤ

@piorbitals ㅤ Gita memiringkan kepalanya, memperhatikan siluet wajah Adam yang diterangi temaram lampu dari luar. Bulu matanya yang panjang selalu berhasil membuat Gita tidak bisa berpaling tiap mereka sedang bicara. ㅤ

@piorbitals ㅤ "Hm? Iya mas ... yuk buruan." Agak gelagapan ketika Adam menoleh ke arahnya, mungkin mendapatinya sedang memperhatikan Adam dari tadi. Kali ini Gita keluar sendiri dari dalam mobil. Dan meskipun tempat ini sepi, tapi jemarinya langsung masuk ke saku jaket @piorbitals. ㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Adam mematikan mesin, tapi tak buru-buru keluar. Dia menunggu beberapa detik, mendengarkan desah napas sendiri dan suara mesin yang mereda. Akhirnya ia membuka pintu, menoleh ke arah Gita yang keluar lebih dulu. Adam berjalan menyusul puan itu, yang jemarinya kini— ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ —sudah otomatis masuk ke saku jaket Adam. Jantungnya berdebar sedikit lebih keras dari biasanya. Mereka berjalan menuju lobi FX. Langkah mereka tenang tapi tertahan—setiap suara sepatu di lantai dan gesekan tas terasa lebih jelas dari biasanya. Di tangannya, Adam— ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ —menggenggam erat tangan Gita, seperti membisikkan ke dalam dirinya sendiri: jangan ragu. Di dalam mall, mereka menuju konter penukaran tiket bioskop. Petugas menyerahkan tiket fisik, setelah itu muncul jeda singkat di mana Adam melepas tangan dari genggaman, untuk— ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤ —menerima tiket dari petugas, lalu kembali menggenggam tangan gadisnya kemudian. Ia lalu memeriksa jam: masih ada sekitar 40 menit sebelum film mulai. Adam menoleh ke Gita, suaranya hampir bergetar saat bilang, “Kita arcade dulu atau langsung photobox? Biar nggak bosan.” ㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Mata Adam menelusuri sekitar, melihat signage SKORZ FX Sudirman yang menawarkan berbagai wahana olahraga & permainan di lantai 3. Ia menyungging senyum kecil, sambil menggandeng lagi tangan Gita, “Mau ke SKORZ? Cukup gak ya waktunya?” ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Ketika mereka turun eskalator ke lantai permainan, Adam merasakan perutnya berdenyut senang dan takut sekaligus. Ia sadar — ini momen kecil yang nantinya bakal dia inget terus. Dia ingin menyandarkan sebentar dagunya di kepala Gita, tapi menahan diri. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Ia tahu, momen yang sederhana justru seringkali paling membekas. Tapi entah kenapa, setiap kali bersama Gita, batas antara cukup dan ingin selalu kabur. Ada sesuatu dalam diri Adam yang terus mendorongnya untuk sedikit lebih dekat lagi, dan lagi. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Ketika mereka tiba di lantai dimana SKORZ dan photobox ada, Adam berdiri di samping Gita, membiarkan gadis itu memilih untuk main game atau berfoto. "Gimana? Main dulu atau langsung photobox? Setengah jam. Paling karoke box atau basket...?" Ia bertanya pada @aeterveilon. ㅤ

Image in tweet by Adam Pranadipa
Image in tweet by Adam Pranadipa
Image in tweet by Adam Pranadipa
Image in tweet by Adam Pranadipa

@piorbitals ㅤ Gita lebih banyak diam begitu mereka memasuki mall. Entah akibat perutnya yang kekenyangan dari sepotong pizza raksasa atau karena jemari Adam begitu erat menggenggamnya, seperti takut ia akan memilih untuk kabur kapan saja. ㅤ

@piorbitals ㅤ Mall adalah salah satu tempat yang ia hindari sebab disinilah sumber keramaian berada. Setelah menukar tiket nonton, mereka setuju untuk mampir sebentar ke SKORZ. Ternyata disana cukup ramai. Penuh lengking tangis anak-anak dan teriakan antusias manusia lainnya. ㅤ

@piorbitals ㅤ Telinga Gita berdenging, dihelanya nafas dalam dan panjang sebelum menjawab Adam. Matanya beredar mencari tempat yang cukup sepi. Kasihan juga kalau Adam harus terseret ke dalam ketidaksukaannya terhadap keramaian. ㅤ

@piorbitals ㅤ "Hmm .. basket dulu, terus photobox, mas?" Ia menoleh, mendongak untuk menemukan manik Adam yang ternyata sedaritadi sudah terpaku pada dirinya. Ada sedikit ketenangan yang mengingatkan kalau ia sedang tidak sendirian, dan mencoba hal-hal baru tidak selalu buruk. ㅤ

@piorbitals ㅤ Maka mereka melangkah masuk, meski sempat menimbang untung rugi sebab waktu yang mereka miliki tak banyak. Akhirnya Adam dan Gita nekat saja. Tiket dan kaos kaki sudah dibeli. Gita berjalan cepat-cepat ke area slamdunk, sesekali menghindari segala bentuk — ㅤ

@piorbitals ㅤ interaksi dan singgungan dengan manusia lainnya. Tubuhnya meliuk, tangannya menyilang di dada. Tak lagi ia pikirkan Adam yang berjalan di belakang mengikutinya, tujuannya hanya area slamdunk yang memang sepi dibanding area yang lain. ㅤ

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/38