@piorbitals ㅤ Gita memiringkan kepalanya, memperhatikan siluet wajah Adam yang diterangi temaram lampu dari luar. Bulu matanya yang panjang selalu berhasil membuat Gita tidak bisa berpaling tiap mereka sedang bicara. ㅤ
@piorbitals ㅤ "Hm? Iya mas ... yuk buruan." Agak gelagapan ketika Adam menoleh ke arahnya, mungkin mendapatinya sedang memperhatikan Adam dari tadi. Kali ini Gita keluar sendiri dari dalam mobil. Dan meskipun tempat ini sepi, tapi jemarinya langsung masuk ke saku jaket @piorbitals. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Adam mematikan mesin, tapi tak buru-buru keluar. Dia menunggu beberapa detik, mendengarkan desah napas sendiri dan suara mesin yang mereda. Akhirnya ia membuka pintu, menoleh ke arah Gita yang keluar lebih dulu. Adam berjalan menyusul puan itu, yang jemarinya kini— ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ —sudah otomatis masuk ke saku jaket Adam. Jantungnya berdebar sedikit lebih keras dari biasanya. Mereka berjalan menuju lobi FX. Langkah mereka tenang tapi tertahan—setiap suara sepatu di lantai dan gesekan tas terasa lebih jelas dari biasanya. Di tangannya, Adam— ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ —menggenggam erat tangan Gita, seperti membisikkan ke dalam dirinya sendiri: jangan ragu. Di dalam mall, mereka menuju konter penukaran tiket bioskop. Petugas menyerahkan tiket fisik, setelah itu muncul jeda singkat di mana Adam melepas tangan dari genggaman, untuk— ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤ —menerima tiket dari petugas, lalu kembali menggenggam tangan gadisnya kemudian. Ia lalu memeriksa jam: masih ada sekitar 40 menit sebelum film mulai. Adam menoleh ke Gita, suaranya hampir bergetar saat bilang, “Kita arcade dulu atau langsung photobox? Biar nggak bosan.” ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Mata Adam menelusuri sekitar, melihat signage SKORZ FX Sudirman yang menawarkan berbagai wahana olahraga & permainan di lantai 3. Ia menyungging senyum kecil, sambil menggandeng lagi tangan Gita, “Mau ke SKORZ? Cukup gak ya waktunya?” ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Ketika mereka turun eskalator ke lantai permainan, Adam merasakan perutnya berdenyut senang dan takut sekaligus. Ia sadar — ini momen kecil yang nantinya bakal dia inget terus. Dia ingin menyandarkan sebentar dagunya di kepala Gita, tapi menahan diri. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Ia tahu, momen yang sederhana justru seringkali paling membekas. Tapi entah kenapa, setiap kali bersama Gita, batas antara cukup dan ingin selalu kabur. Ada sesuatu dalam diri Adam yang terus mendorongnya untuk sedikit lebih dekat lagi, dan lagi. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Ketika mereka tiba di lantai dimana SKORZ dan photobox ada, Adam berdiri di samping Gita, membiarkan gadis itu memilih untuk main game atau berfoto. "Gimana? Main dulu atau langsung photobox? Setengah jam. Paling karoke box atau basket...?" Ia bertanya pada @aeterveilon. ㅤ
@piorbitals ㅤ Gita lebih banyak diam begitu mereka memasuki mall. Entah akibat perutnya yang kekenyangan dari sepotong pizza raksasa atau karena jemari Adam begitu erat menggenggamnya, seperti takut ia akan memilih untuk kabur kapan saja. ㅤ
@piorbitals ㅤ Mall adalah salah satu tempat yang ia hindari sebab disinilah sumber keramaian berada. Setelah menukar tiket nonton, mereka setuju untuk mampir sebentar ke SKORZ. Ternyata disana cukup ramai. Penuh lengking tangis anak-anak dan teriakan antusias manusia lainnya. ㅤ
@piorbitals ㅤ Telinga Gita berdenging, dihelanya nafas dalam dan panjang sebelum menjawab Adam. Matanya beredar mencari tempat yang cukup sepi. Kasihan juga kalau Adam harus terseret ke dalam ketidaksukaannya terhadap keramaian. ㅤ
@piorbitals ㅤ "Hmm .. basket dulu, terus photobox, mas?" Ia menoleh, mendongak untuk menemukan manik Adam yang ternyata sedaritadi sudah terpaku pada dirinya. Ada sedikit ketenangan yang mengingatkan kalau ia sedang tidak sendirian, dan mencoba hal-hal baru tidak selalu buruk. ㅤ
@piorbitals ㅤ Maka mereka melangkah masuk, meski sempat menimbang untung rugi sebab waktu yang mereka miliki tak banyak. Akhirnya Adam dan Gita nekat saja. Tiket dan kaos kaki sudah dibeli. Gita berjalan cepat-cepat ke area slamdunk, sesekali menghindari segala bentuk — ㅤ
@piorbitals ㅤ interaksi dan singgungan dengan manusia lainnya. Tubuhnya meliuk, tangannya menyilang di dada. Tak lagi ia pikirkan Adam yang berjalan di belakang mengikutinya, tujuannya hanya area slamdunk yang memang sepi dibanding area yang lain. ㅤ
@piorbitals ㅤ Digenggamnya bola basket di tangan. Gita jelas payah dalam olahraga. Tubuh lemas dan letoy-nya itu memiliki energi yang cukup terbatas, terlebih jiwa kompetitifnya sama sekali kosong. Berbanding terbalik dengan Adam. Mereka begitu bertolak belakang, entah — ㅤ
@piorbitals ㅤ akan menjadi magnet yang saling tarik menarik, atau akan menjadi zat kimia yang tidak bisa bersatu, tidak boleh bercampur karena akan menghasilkan reaksi yang tidak diinginkan. Visi Gita masih buram soal itu. Adam akhirnya berdiri disampingnya, tegap, berisi, atletis — ㅤ
@piorbitals ㅤ perempuan normal sudah pasti menyukainya. Pun Gita, meski banyak pergolakan dalam dadanya yang sekarang berisik akibat aliran darah terpompa lebih cepat. "Yang kalah bayar photobox!" Seru Gita, memasang kuda-kudanya yang lemas, dan bersiap melempar bolah ke dalam ring. ㅤ
@piorbitals ㅤ Yang tentu saja gagal, bahkan setelah tiga, empat, tujuh kali berusaha melempar. Bola hanya mengecup pinggiran ring dan bergulir keluar. Sedang Adam mencetak angka demi angka dengan sasarannya yang hampir tidak pernah meleset. ㅤ
@piorbitals ㅤ "Siapa sih yang ngide beginian." Kesal, Guta melempar bolanya sembarangan lalu memilih duduk. Mereka masih punya waktu sekitar 10 menit sebelum filmnya mulai. ㅤ
@piorbitals ㅤ Selagi duduk ia mengamati @piorbitals yang terus memasukkan bola kedalam ring sambil tersenyum lebar. Kemenangan telak bagi si paling olahraga. Pikir Gita, yang tak bisa marah karena kapan lagi ia bisa melihat Adam begitu antusias selama mereka kenal kalau bukan saat ini. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Adam berdiri di samping Gita, melihatnya canggung menavigasi menembus area permainan yang ramai. Ia bisa merasakan ketegangan halus yang terpancar dari gadis itu—tangan menyilang di dada, langkah meliuk menghindari kerumunan—dan entah kenapa itu membuatnya ingin— ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ melindungi momen, tapi tetap membiarkan Gita menemukan ritmenya sendiri. Ia menggenggam bola basket, merasakan beratnya di tangan, tapi matanya sesekali melirik ke Gita. Setiap kali gadis itu melempar dan gagal, Adam hanya bisa terkekeh pelan, bukan mengejek, tapi— .
@aeterveilon ㅤㅤ Adam menikmati ekspresinya yang polos dan lucu. Kadang ia menunduk sebentar, pura-pura fokus, tapi tetap menyadari setiap gerak Gita—dari lekukan tubuhnya hingga wajahnya yang berkerut penuh konsentrasi. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤ Saat angkanya bertambah dan Gita semakin frustrasi, ia sengaja memperlambat tempo lemparan, memberi ruang bagi Gita untuk tertawa atau menarik napas lega. Adam tahu, kemenangan bukan soal skor di basket, melainkan momen berdua dengan Gita—sesuatu yang ingin ia ingat lama. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Lagi pula, Adam dulu ekskul basket di SMA. Sekadar memasukkan bola ke ring, apalagi arcade slam dunk macam ini, mudah saja baginya. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Ketika Gita akhirnya menyerah dan duduk di pinggir, Adam meliriknya sekilas sambil menyeka keringat di dahinya. Ia terkekeh kecil, bukan karena kemenangan, tapi karena bisa melihat gadis itu terlihat kesal akibat terus gagal memasukkan bola. Gemas, pikir Adam. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ “Sini, mau Mas kasih tau caranya nggak? Tapi habis ini aja yaaa. Atau mau karaokean aja? Atau langsung ke photobox?” Mulutnya berbicara, tapi tangan dan badannya tetap bergerak, memasukkan bola ke ring, mencetak angka demi angka sampai waktu permainan habis. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Adam tersenyum lebar. Ia senang setiap kali bisa menggerakkan tubuhnya sambil bermain. Rasanya puas. Tapi saat melihat ekspresi Gita yang masih cemberut, ia buru-buru berlutut di depan gadis itu, menyesuaikan pandangannya agar sejajar dengan mata Gita. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Dengan posisi itu, ia menatapnya dan bersuara nakal, “Ih, apa niii? Mana bisa taruhan cuma dari satu permainan aja. Minimal dua atau tiga kaan? Kita adu tatap, yang kedip kalah!” ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Mata Adam menyorot Gita menantang, walau sebenarnya untuk taruhan ini—dengan @aeterveilon sebagai lawan—ia yakin akan kalah. ㅤㅤ
@piorbitals ㅤ Mengetahui ia memiliki kesempatan untuk menang meski hanya sekali saja dari Adam, membuat Gita menegakkan tubuhnya. Matanya fokus menatap pupil gelap milik Adam. Jiwa kompetitifnya naik menjadi satu persen, dan itu sebuah kemajuan, kan? ㅤ
@piorbitals ㅤ Untuk satu menit yang terasa terlampau lama, mata mereka terus beradu. Bukan berarti Gita merasa baik-baik saja. Dengan jarak sedekat ini ia bisa melihat wajah Adam dengan begitu jelas. Bulu mata, hidung, bibir, rahang, dan semua yang tak pernah benar-benar ia perhatikan. ㅤ
@piorbitals ㅤ Dadanya bergemuruh, telinganya berisik oleh degup yang semakin kencang, pun tubuhnya menghangat. Pasti karena habis 'olahraga' yang hampir tak pernah ia lakukan itu. Bibirnya terkatup. Kalau yang begini saja kalah dari Adam, mungkin Gita memang payah soal taruhan. ㅤ
@piorbitals ㅤ Hening masih hadir di antara mereka, sedang Gita masih terus mencari cara untuk mengungguli Adam meski matanya mulai pedih. Biasanya @piorbitals mudah terdistraksi. Gita bergerak maju, mempersempit jarak yang sudah sempit, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. ㅤ




