@piorbitals ㅤ Telinga Gita berdenging, dihelanya nafas dalam dan panjang sebelum menjawab Adam. Matanya beredar mencari tempat yang cukup sepi. Kasihan juga kalau Adam harus terseret ke dalam ketidaksukaannya terhadap keramaian. ㅤ
@piorbitals ㅤ "Hmm .. basket dulu, terus photobox, mas?" Ia menoleh, mendongak untuk menemukan manik Adam yang ternyata sedaritadi sudah terpaku pada dirinya. Ada sedikit ketenangan yang mengingatkan kalau ia sedang tidak sendirian, dan mencoba hal-hal baru tidak selalu buruk. ㅤ
@piorbitals ㅤ Maka mereka melangkah masuk, meski sempat menimbang untung rugi sebab waktu yang mereka miliki tak banyak. Akhirnya Adam dan Gita nekat saja. Tiket dan kaos kaki sudah dibeli. Gita berjalan cepat-cepat ke area slamdunk, sesekali menghindari segala bentuk — ㅤ
@piorbitals ㅤ interaksi dan singgungan dengan manusia lainnya. Tubuhnya meliuk, tangannya menyilang di dada. Tak lagi ia pikirkan Adam yang berjalan di belakang mengikutinya, tujuannya hanya area slamdunk yang memang sepi dibanding area yang lain. ㅤ
@piorbitals ㅤ Digenggamnya bola basket di tangan. Gita jelas payah dalam olahraga. Tubuh lemas dan letoy-nya itu memiliki energi yang cukup terbatas, terlebih jiwa kompetitifnya sama sekali kosong. Berbanding terbalik dengan Adam. Mereka begitu bertolak belakang, entah — ㅤ
@piorbitals ㅤ akan menjadi magnet yang saling tarik menarik, atau akan menjadi zat kimia yang tidak bisa bersatu, tidak boleh bercampur karena akan menghasilkan reaksi yang tidak diinginkan. Visi Gita masih buram soal itu. Adam akhirnya berdiri disampingnya, tegap, berisi, atletis — ㅤ
@piorbitals ㅤ perempuan normal sudah pasti menyukainya. Pun Gita, meski banyak pergolakan dalam dadanya yang sekarang berisik akibat aliran darah terpompa lebih cepat. "Yang kalah bayar photobox!" Seru Gita, memasang kuda-kudanya yang lemas, dan bersiap melempar bolah ke dalam ring. ㅤ
@piorbitals ㅤ Yang tentu saja gagal, bahkan setelah tiga, empat, tujuh kali berusaha melempar. Bola hanya mengecup pinggiran ring dan bergulir keluar. Sedang Adam mencetak angka demi angka dengan sasarannya yang hampir tidak pernah meleset. ㅤ
@piorbitals ㅤ "Siapa sih yang ngide beginian." Kesal, Guta melempar bolanya sembarangan lalu memilih duduk. Mereka masih punya waktu sekitar 10 menit sebelum filmnya mulai. ㅤ
@piorbitals ㅤ Selagi duduk ia mengamati @piorbitals yang terus memasukkan bola kedalam ring sambil tersenyum lebar. Kemenangan telak bagi si paling olahraga. Pikir Gita, yang tak bisa marah karena kapan lagi ia bisa melihat Adam begitu antusias selama mereka kenal kalau bukan saat ini. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Adam berdiri di samping Gita, melihatnya canggung menavigasi menembus area permainan yang ramai. Ia bisa merasakan ketegangan halus yang terpancar dari gadis itu—tangan menyilang di dada, langkah meliuk menghindari kerumunan—dan entah kenapa itu membuatnya ingin— ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ melindungi momen, tapi tetap membiarkan Gita menemukan ritmenya sendiri. Ia menggenggam bola basket, merasakan beratnya di tangan, tapi matanya sesekali melirik ke Gita. Setiap kali gadis itu melempar dan gagal, Adam hanya bisa terkekeh pelan, bukan mengejek, tapi— .
@aeterveilon ㅤㅤ Adam menikmati ekspresinya yang polos dan lucu. Kadang ia menunduk sebentar, pura-pura fokus, tapi tetap menyadari setiap gerak Gita—dari lekukan tubuhnya hingga wajahnya yang berkerut penuh konsentrasi. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤ Saat angkanya bertambah dan Gita semakin frustrasi, ia sengaja memperlambat tempo lemparan, memberi ruang bagi Gita untuk tertawa atau menarik napas lega. Adam tahu, kemenangan bukan soal skor di basket, melainkan momen berdua dengan Gita—sesuatu yang ingin ia ingat lama. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Lagi pula, Adam dulu ekskul basket di SMA. Sekadar memasukkan bola ke ring, apalagi arcade slam dunk macam ini, mudah saja baginya. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Ketika Gita akhirnya menyerah dan duduk di pinggir, Adam meliriknya sekilas sambil menyeka keringat di dahinya. Ia terkekeh kecil, bukan karena kemenangan, tapi karena bisa melihat gadis itu terlihat kesal akibat terus gagal memasukkan bola. Gemas, pikir Adam. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ “Sini, mau Mas kasih tau caranya nggak? Tapi habis ini aja yaaa. Atau mau karaokean aja? Atau langsung ke photobox?” Mulutnya berbicara, tapi tangan dan badannya tetap bergerak, memasukkan bola ke ring, mencetak angka demi angka sampai waktu permainan habis. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Adam tersenyum lebar. Ia senang setiap kali bisa menggerakkan tubuhnya sambil bermain. Rasanya puas. Tapi saat melihat ekspresi Gita yang masih cemberut, ia buru-buru berlutut di depan gadis itu, menyesuaikan pandangannya agar sejajar dengan mata Gita. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Dengan posisi itu, ia menatapnya dan bersuara nakal, “Ih, apa niii? Mana bisa taruhan cuma dari satu permainan aja. Minimal dua atau tiga kaan? Kita adu tatap, yang kedip kalah!” ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Mata Adam menyorot Gita menantang, walau sebenarnya untuk taruhan ini—dengan @aeterveilon sebagai lawan—ia yakin akan kalah. ㅤㅤ
@piorbitals ㅤ Mengetahui ia memiliki kesempatan untuk menang meski hanya sekali saja dari Adam, membuat Gita menegakkan tubuhnya. Matanya fokus menatap pupil gelap milik Adam. Jiwa kompetitifnya naik menjadi satu persen, dan itu sebuah kemajuan, kan? ㅤ
@piorbitals ㅤ Untuk satu menit yang terasa terlampau lama, mata mereka terus beradu. Bukan berarti Gita merasa baik-baik saja. Dengan jarak sedekat ini ia bisa melihat wajah Adam dengan begitu jelas. Bulu mata, hidung, bibir, rahang, dan semua yang tak pernah benar-benar ia perhatikan. ㅤ
@piorbitals ㅤ Dadanya bergemuruh, telinganya berisik oleh degup yang semakin kencang, pun tubuhnya menghangat. Pasti karena habis 'olahraga' yang hampir tak pernah ia lakukan itu. Bibirnya terkatup. Kalau yang begini saja kalah dari Adam, mungkin Gita memang payah soal taruhan. ㅤ
@piorbitals ㅤ Hening masih hadir di antara mereka, sedang Gita masih terus mencari cara untuk mengungguli Adam meski matanya mulai pedih. Biasanya @piorbitals mudah terdistraksi. Gita bergerak maju, mempersempit jarak yang sudah sempit, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Adam sempat ingin menertawakan kelakuannya sendiri—tentu saja dia gugup di hadapan gadis itu, yang bahkan belum berbuat apa-apa. Jantungnya seperti punya kehendak sendiri, berdetak terlalu cepat, tercabik antara gugup dan takut ketinggalan momen yang bahkan belum terjadi. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ “Eh…” suaranya pelan, nyaris hanya berupa embusan napas. Nafas mereka bertemu di udara yang sempit di antara wajah mereka. Adam menelan ludah, rahangnya mengeras, jari-jarinya tanpa sadar menekan lutut sendiri, mencoba menyalurkan kegugupan yang meluap. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Sial. Ia ingin mundur, tapi tubuhnya tak mau kompromi. Ketika Gita semakin mendekat—begitu dekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan—Adam kehilangan seluruh alasan untuk berpikir. Matanya berkedip cepat, lalu justru tertahan di pandangan Gita. Kalah sudah, pikir Adam. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Kini yang tersisa hanya dorongan singkat, nyaris refleks. Ia mencondongkan tubuh, dan bibir mereka saling bersentuhan dalam ciuman yang begitu ringan, nyaris ragu, tapi cukup untuk menghentikan waktu sejenak. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Adam langsung menjauh sepersekian detik kemudian, teringat mereka sedang berada di mana sekarang—napasnya tak beraturan, jantungnya berpacu tak karuan. Ia bahkan tak tahu siapa di antara mereka yang lebih kaget. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤ Senyum gugup muncul di wajahnya, dan ia menggaruk tengkuk sendiri, menunduk sebentar sambil menahan tawa kecil yang lebih seperti upaya menyembunyikan panik. “Eh… itu… mas kalah. Yuk photobox!” katanya pelan, berusaha cuek meski kupingnya sudah memerah panas. @aeterveilon .
@piorbitals ㅤ Gita terhenyak, tubuhnya kaku sesaat, sedang bola matanya melotot semakin lebar ketika bibir Adam menempel pada bibirnya. Meski ringan, meski singkat, tapi mampu membuat sekujur tubuhnya menghangat, diiringi sensasi tersengat aliran listrik ringan, ujung jarinya kesemutan. ㅤ
@piorbitals ㅤ Tentu saja wajahnya menjadi merah padam begitu Adam menarik diri, memberi mereka ruang untuk bernapas. Apa itu barusan? Ditempat ramai begini? Dadanya penuh sekali dengan berbagai macam perasaan yang membuatnya bingung. Maka meski terhuyung, ia berdiri. ㅤ
@piorbitals ㅤ "Eh .. ekhm .. iya ayo mas." Langkahnya lambat-lambat mendahului Adam. Napasnya ditarik dalam-dalam, lalu ujung jemarinya mengusap pelan bibirnya yang penuh. Keheningan semakin terasa di antara mereka ketika menuju photobox. Rasanya ada banyak pertanyaan dan keinginan — ㅤ
@piorbitals yang ia pendam. Setidaknya, untuk hari ini. Sampai kegiatan mereka selesai. Tapi sekarang mereka terjebak diruang photobox yang cukup sempit dan hanya berdua. "Emm .. mau yang ini mas?" Gita menunjuk frame berwarna merah, memencet layar kemudian mulai berpose.
@piorbitals ㅤ Sesaat ia lupa pada kejadian beberapa menit yang lalu sebab fokusnya benar-benar terarah pada photobox. Berkali-kali mereka berganti pose hingga dirasa puas. Canggung yang tadinya hadir kini perlahan luntur. Tawa renyah dan kekehan kecil mengisi ruang foto mereka. ㅤ
@piorbitals ⠀ ⠀ ⠀ Setelah puas berfoto dan mengedit foto mereka, Gita memencet tombol cetak kemudian menunggu hasil cetaknya keluar. Digenggamnya dua foto yang sama, "Woaahh bagus banget ya mas?" Gita tersenyum lebar menghadap wajah @piorbitals ⠀ ⠀ ⠀ ⠀
