Published: October 9, 2025
1
0
0

@aeterveilon ㅤㅤ Adam tersenyum lebar. Ia senang setiap kali bisa menggerakkan tubuhnya sambil bermain. Rasanya puas. Tapi saat melihat ekspresi Gita yang masih cemberut, ia buru-buru berlutut di depan gadis itu, menyesuaikan pandangannya agar sejajar dengan mata Gita. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Dengan posisi itu, ia menatapnya dan bersuara nakal, “Ih, apa niii? Mana bisa taruhan cuma dari satu permainan aja. Minimal dua atau tiga kaan? Kita adu tatap, yang kedip kalah!” ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Mata Adam menyorot Gita menantang, walau sebenarnya untuk taruhan ini—dengan @aeterveilon sebagai lawan—ia yakin akan kalah. ㅤㅤ

@piorbitals ㅤ Mengetahui ia memiliki kesempatan untuk menang meski hanya sekali saja dari Adam, membuat Gita menegakkan tubuhnya. Matanya fokus menatap pupil gelap milik Adam. Jiwa kompetitifnya naik menjadi satu persen, dan itu sebuah kemajuan, kan? ㅤ

@piorbitals ㅤ Untuk satu menit yang terasa terlampau lama, mata mereka terus beradu. Bukan berarti Gita merasa baik-baik saja. Dengan jarak sedekat ini ia bisa melihat wajah Adam dengan begitu jelas. Bulu mata, hidung, bibir, rahang, dan semua yang tak pernah benar-benar ia perhatikan. ㅤ

@piorbitals ㅤ Dadanya bergemuruh, telinganya berisik oleh degup yang semakin kencang, pun tubuhnya menghangat. Pasti karena habis 'olahraga' yang hampir tak pernah ia lakukan itu. Bibirnya terkatup. Kalau yang begini saja kalah dari Adam, mungkin Gita memang payah soal taruhan. ㅤ

@piorbitals ㅤ Hening masih hadir di antara mereka, sedang Gita masih terus mencari cara untuk mengungguli Adam meski matanya mulai pedih. Biasanya @piorbitals mudah terdistraksi. Gita bergerak maju, mempersempit jarak yang sudah sempit, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. ㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Adam sempat ingin menertawakan kelakuannya sendiri—tentu saja dia gugup di hadapan gadis itu, yang bahkan belum berbuat apa-apa. Jantungnya seperti punya kehendak sendiri, berdetak terlalu cepat, tercabik antara gugup dan takut ketinggalan momen yang bahkan belum terjadi. ㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ “Eh…” suaranya pelan, nyaris hanya berupa embusan napas. Nafas mereka bertemu di udara yang sempit di antara wajah mereka. Adam menelan ludah, rahangnya mengeras, jari-jarinya tanpa sadar menekan lutut sendiri, mencoba menyalurkan kegugupan yang meluap. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Sial. Ia ingin mundur, tapi tubuhnya tak mau kompromi. Ketika Gita semakin mendekat—begitu dekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan—Adam kehilangan seluruh alasan untuk berpikir. Matanya berkedip cepat, lalu justru tertahan di pandangan Gita. Kalah sudah, pikir Adam. ㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Kini yang tersisa hanya dorongan singkat, nyaris refleks. Ia mencondongkan tubuh, dan bibir mereka saling bersentuhan dalam ciuman yang begitu ringan, nyaris ragu, tapi cukup untuk menghentikan waktu sejenak. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Adam langsung menjauh sepersekian detik kemudian, teringat mereka sedang berada di mana sekarang—napasnya tak beraturan, jantungnya berpacu tak karuan. Ia bahkan tak tahu siapa di antara mereka yang lebih kaget. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤ Senyum gugup muncul di wajahnya, dan ia menggaruk tengkuk sendiri, menunduk sebentar sambil menahan tawa kecil yang lebih seperti upaya menyembunyikan panik. “Eh… itu… mas kalah. Yuk photobox!” katanya pelan, berusaha cuek meski kupingnya sudah memerah panas. @aeterveilon .

@piorbitals ㅤ Gita terhenyak, tubuhnya kaku sesaat, sedang bola matanya melotot semakin lebar ketika bibir Adam menempel pada bibirnya. Meski ringan, meski singkat, tapi mampu membuat sekujur tubuhnya menghangat, diiringi sensasi tersengat aliran listrik ringan, ujung jarinya kesemutan. ㅤ

@piorbitals ㅤ Tentu saja wajahnya menjadi merah padam begitu Adam menarik diri, memberi mereka ruang untuk bernapas. Apa itu barusan? Ditempat ramai begini? Dadanya penuh sekali dengan berbagai macam perasaan yang membuatnya bingung. Maka meski terhuyung, ia berdiri. ㅤ

@piorbitals ㅤ "Eh .. ekhm .. iya ayo mas." Langkahnya lambat-lambat mendahului Adam. Napasnya ditarik dalam-dalam, lalu ujung jemarinya mengusap pelan bibirnya yang penuh. Keheningan semakin terasa di antara mereka ketika menuju photobox. Rasanya ada banyak pertanyaan dan keinginan — ㅤ

@piorbitals yang ia pendam. Setidaknya, untuk hari ini. Sampai kegiatan mereka selesai. Tapi sekarang mereka terjebak diruang photobox yang cukup sempit dan hanya berdua. "Emm .. mau yang ini mas?" Gita menunjuk frame berwarna merah, memencet layar kemudian mulai berpose.

@piorbitals ㅤ Sesaat ia lupa pada kejadian beberapa menit yang lalu sebab fokusnya benar-benar terarah pada photobox. Berkali-kali mereka berganti pose hingga dirasa puas. Canggung yang tadinya hadir kini perlahan luntur. Tawa renyah dan kekehan kecil mengisi ruang foto mereka. ㅤ

@piorbitals ⠀ ⠀ ⠀ Setelah puas berfoto dan mengedit foto mereka, Gita memencet tombol cetak kemudian menunggu hasil cetaknya keluar. Digenggamnya dua foto yang sama, "Woaahh bagus banget ya mas?" Gita tersenyum lebar menghadap wajah @piorbitals ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

@aeterveilon ㅤㅤ Sempat ada rasa sesal yang lewat sekelebat di kepala Adam. Ia tahu seharusnya menahan diri—tempat ramai, bukan waktunya. Tapi begitu Gita mundur dengan wajah merah padam, sesal itu berubah jadi sesuatu yang lain. Hangat. Nyata. Dan... ia malah ingin mengulanginya. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Jadi meski langkah mereka menuju photobox diiringi hening dan jantung yang masih jauh dari kata tenang, Adam tahu satu hal: kalau waktu diulang, ia akan tetap melakukannya, mencium Gita. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Mereka memasuki ruang photobox. Ruang… pho-to-box. Ruang sempit yang hanya diisi mereka berdua saja. Adam menelan ludah. Detak jantungnya berpacu cepat seperti hujan deras yang menerjang kota Bandung minggu lalu. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Namun rasa gugup karena berduaan dengan Gita di ruang tertutup itu perlahan luntur setelah ia—yang sangat jarang, nyaris tak pernah—ber-photobox ria, malah kesulitan berpose. Beberapa kali foto mereka gagal karena Adam bergerak ketika kamera membidik gambar. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Hal itu yang membuat ketegangan mereka mencair. Tawa geli memenuhi ruang photobox itu. Urusan edit-mengedit Adam serahkan pada ahlinya. Gita beberapa tahun lebih muda darinya; seleranya pasti estetik khas gen Z. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤ Adam memilih menonton dari belakang sambil ber-uhh-oohhh melihat prosesnya. Saat hasil foto mereka keluar, Adam senang sekali melihatnya. Ternyata hal-hal seperti ini bisa sangat menyenangkan. Atau… orang yang bersamanya yang membuat hal seperti ini terasa menyenangkan? ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Foto ini akan ia gandakan—ia pajang di cermin, di bingkai, bahkan di dompetnya, pikir Adam, agak berlebihan. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Tatapan mereka bertaut sesaat. Sekejap, waktu berhenti. Senyum Adam terkembang lebar, dan Gita ikut tersenyum—dua garis lengkung kecil yang membuat dunia di luar ruang itu terasa jauh sekali. Entah siapa yang mulai lebih dulu, tapi senyum mereka menular satu sama lain. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Perlahan, senyum itu berubah jadi tawa kecil—sedikit canggung, sedikit salah tingkah. Masih ada sisa cengiran di wajah Adam ketika ia membayar. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤ Mereka keluar dari photobox dan berjalan menuju bioskop. Tanpa banyak bicara, jemari mereka bertemu lagi—entah siapa yang mulai. Tapi kali ini rasanya berbeda. Kalau tadi Adam cuma merasakan getar halus, kini seperti kesetrum power inverter; cepat, kuat, tapi menyenangkan. ㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Mereka bergegas, langkah hampir setengah berlari menembus lorong mal. Sesekali tertawa kecil karena hampir menabrak orang. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Saat sampai di depan studio, lampu sudah redup. Petugas mempersilakan mereka masuk dengan senter kecil, dan di dalam, layar sudah menayangkan iklan. Syukurlah baru iklan. ㅤㅤ

@aeterveilon ㅤㅤ Adam menatap layar sebentar, berbisik pelan “Untung belum mulai.” Tak butuh waktu lama untuk menemukan kursi mereka. Duduk bersebelahan—tentu saja—masih dengan jemari yang saling bertaut. Dalam gelap studio, genggaman itu terasa hangat. Terlalu hangat. @aeterveilon ㅤㅤ

@piorbitals ㅤ Gita melirik ke arah jam tangan Adam dan menyadari kalau seharusnya sekarang mereka sudah ada di dalam bioskop. "Mas, buruan!!" Serunya, menggandeng tangan Adam dan menariknya untuk berjalan— setengah berlari begitu urusan mereka dengan photobox selesai. ㅤ

@piorbitals ㅤ "Whoops, sorry!" Seru Gita pada seseorang yang hampir mereka tabrak, yang sudah pasti ngedumel dibelakang punggung mereka yang terus bergerak. Gita melirik Adam, kemudian terbahak begitu mata mereka bertemu. Kecepatan mereka melambat begitu masuk ke dalam teater bioskop — ㅤ

@piorbitals ㅤ Mereka segera duduk di kursi yang sudah mereka pesan sebelumnya. Untung bioskop di Indonesia ini hobi menayangkan banyak sekali iklan hingga film belum dimulai. Gita menarik napas panjang, meleleh ke dalam kursi bioskop yang cukup empuk. ㅤ

@piorbitals ㅤ Gita meremas jemari Adam lebih keras saat filmnya mulai diputar. Matanya fokus menatap layar kaca, sesekali meringis atau tertawa sesuai adegan yang ditampilkan di layar besar. Meski fokusnya berada di depan, tapi ekor mata sesekali mendapati @piorbitals menoleh ke arahnya.

Share this thread

Read on Twitter

View original thread

Navigate thread

1/36