⠀ ⠀ 𝑮𝒐𝒍𝒇 𝑺𝒖𝒊𝒕𝒆 — 𝑻𝒉𝒆 𝑮𝒓𝒂𝒏𝒅 𝑫𝒐𝒍𝒅𝒆𝒓, 𝒁𝒖𝒓𝒊𝒄𝒉 ⠀ ⠀ ⠀ ⠀
ㅤ Jam di ponsel Gita menunjukkan pukul satu siang waktu setempat saat sebuah pesan dari Adam muncul di beranda notifikasi. 𝘔𝘢𝘴 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪. Dibarengi dengan foto lorong kamar yang membuat ujung-ujung jemarinya tergelitik. ㅤ
ㅤ Rasanya sudah lama sejak Gita merasa sehangat ini. Rasanya seperti ada yang menjalar disekujur tubuhnya dan itu membuatnya... senang? Ia berlari menuju pintu, menunggu suara ketukan. 1 ... 2 ... 3 ... 𝘒𝘯𝘰𝘤𝘬, 𝘬𝘯𝘰𝘤𝘬! ㅤ
ㅤ Napasnya tercekat. Sejak pertama kali mengenal Adam, baru pertama kali pula mereka berpisah dengan jarak sejauh ini. Dan semua ejekan yang ia lontarkan pada sang tuan sebelum berangkat ke Swiss jadi senjata makan tuan. ㅤ
ㅤ Ternyata rasanya kosong ketika tidak ada sosok Adam secara fisik dihadapannya dalam waktu lebih dari 3 hari. Aneh, tapi Gita sudah menyerah pada malam-malam dimana ia merengek meminta Adam untung datang. Dan sebagaimana seharusnya, lelakinya sekarang ada dibalik pintu. ㅤ
ㅤ Digenggamnya gagang pintu erat sebelum tangannya bergerak membuka, begitu perlahan, amat sangat perlahan selagi kepalanya mengintip keluar. Disana, dihadapannya, berdiri Adam dengan mata bulat dan senyum tipisnya. Lalu rasanya seperti ada batu yang diangkat dari dada Gita. ㅤ
ㅤ Dibukanya pintu lebar-lebar, diraihnya lengan @piorbitals yang sudah terulur dengan pelukan yang amat sangat erat. Gelenyar hangat menjalar ke seluruh tubuh Gita, yang entah bagaimana turut serta mengusir penat yang ia rasakan selama berhari-hari. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Adam melangkah ringan, setiap langkah seolah membawanya semakin dekat pada sesuatu yang sudah lama ia rindukan. Hotel tempat Gita menginap tampak megah dari luar — seperti kastil yang berdiri di tengah kota modern. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Tiga hari. Hanya tiga hari mereka berpisah, tapi rasanya seperti berbulan-bulan. Bukan cuma karena jarak; perbedaan waktu lima jam membuat segalanya terasa lebih jauh. Saat Adam baru membuka mata, Gita sudah berkutat dengan pekerjaannya. Saat Gita akhirnya punya waktu— ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ —luang, giliran Adam yang tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Benar kata orang-orang: LDR memang berat. Terlebih untuk dua orang yang sama-sama clingy — terutama Adam. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Lorong hotel terasa sunyi, tapi di telinganya ada gema halus setiap kali langkahnya menjejak karpet tebal. Mustahil sebenarnya suara itu terdengar, tapi entah kenapa, gema itu ada — mungkin gema dari dadanya sendiri yang berdegup makin cepat. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤ Nomor kamarnya sudah diingat Adam sejak ia bertanya di lobby tadi. Tetap saja, jantungnya berdetak lebih cepat saat angka itu terlihat di ujung lorong. Ia berhenti sejenak di depannya — menatap pintu itu seperti menatap garis akhir dari tiga hari yang terasa sangat panjang. ㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Tangannya bergerak mengambil ponsel. Ia membuka kamera, mengambil satu foto lorong hotel dengan cahaya lembut dari lampu dinding, lalu mengetik singkat: 𝗠𝗮𝘀 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Pesan terkirim. Beberapa detik kemudian, Adam menyimpan ponselnya kembali ke saku, menarik napas pelan. Lucu, pikirnya. Sudah sejauh ini terbang, sudah setua ini umur, tapi masih saja gugup seperti remaja yang mau ketemu gebetan onlinenya untuk pertama kali. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Tangannya terulur, mengetuk perlahan. Satu... dua... tiga... knock, knock. Hening sebentar. Lalu terdengar suara kenop pintu didorong dari dalam. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Pintu terbuka sedikit, menampakkan sepasang mata yang ia kenal betul — mata yang sama yang selalu menatapnya dengan campuran rasa sebal dan rindu. 𝙂𝙞𝙩𝙖... ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Dan di detik itu, semua rasa lelah perjalanan lenyap begitu saja. Adam tak ingat apa yang pertama kali ia katakan; mungkin hanya gumaman kecil sebelum tubuhnya ditarik ke dalam pelukan. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤㅤ Hangat... Begitu hangat sampai ia lupa sedang berada ribuan kilometer dari rumah. ㅤㅤ
@aeterveilon ㅤ Pelukan itu lama sekali. Adam bisa merasakan gemuruh detak jantung @aeterveilon di dadanya. Sama seperti miliknya. Ia tak berkata apa pun, hanya membiarkan satu tangan mengusap punggung Gita pelan, menenangkan badai kecil yang selama ini berputar di dada mereka. ㅤ
@piorbitals ㅤ Dalam pelukan yang lama dan menenangkan itu, detak jantung mereka yang sebelumnya saling beradu, perlahan menjadi seirama. Bahwa mungkin rindu tak serta merta menguap, namun menemukan tempatnya bermuara. ㅤ
@piorbitals ㅤ Tanpa banyak basa-basi, Gita mengajak Adam untuk masuk. Lelaki ini patut merasakan ranjang empuk dan hangat setelah terbang lebih dari tujuh belas jam dan sempat ketiduran di kursi bandara semalaman. ㅤ
@piorbitals ㅤ Makan siang mereka sudah tertata rapi di meja sudut ruangan, tapi Gita memilih untuk terus menuntun Adam menuju ruangan dengan pintu terpisah, menuju kamar tidur yang untungnya, sempat dirapikan oleh staff hotel. ㅤ
@piorbitals ㅤ Lalu mereka duduk ditepi ranjang, bersebelahan, menatap ke arah balkon dalam diam. Jemari Gita menelurusi lengan hingga telapak tangan Adam, menautkan jemari mereka yang turut menghantarkan rasa geli bagai tersengat listrik hingga ke perutnya. ㅤ
@piorbitals ㅤ Dagunya bersandar pada bahu sang tuan, wajahnya nenghadap pada Adam, mengamati pria disampingnya dari jarak super dekat. Masih tak ada kata yang keluar dari keduanya, seakan mereka ingin meresapi kehadiran satu sama lain sedikit lebih lama sebelum memulai perbincangan. ㅤ
@piorbitals ㅤ Napas Gita panjang dan teratur. Rasanya sakit kepala akibat pekerjaan dihari yang lalu hilang begitu saja. Sampai sekarang bulu mata Adam masih jadi favorit Gita, panjang dan lentik, membuatnya tergelitik untuk menyentuh setiap kali mereka berada di jarak sedekat ini. ㅤ
@piorbitals ㅤ Kecupan halus kemudian mendarat di pipi kanan Adam. "Kangen." Bisiknya tanpa suara, yang sudah pasti Adam bisa dengar dari jarak sedekat ini. Sementara ibu jarinya menari dengan gerakan melingkar perlahan di punggung tangan Adam. ㅤ
@piorbitals ㅤ "Mas kangen aku nggak?" Matanya berbinar, menunggu bibir @piorbitals bergerak menjawab. Gita menyerah, pasrah, membiarkan emosi yang memenuhinya tiga hari terakhir mengambil alih, mengalir menuju manusia yang seharusnya. ㅤ

